Menjaga Tetesan Air : Belajar dari Aabid Surti

Hei banyu,hei banyu ning kene ana crita

Hei banyu, hei banyu ning kene ana crita

Critane wong Jawa kang kelangan makna

(Slamet Gundono)

No-water 

Adalah Aabid Surti, seorang penulis dan pelukis yang mempunyai karakter aneh. Beberapa orang menyebutnya malaikat, karena tindakannya yang sederhana tapi disertai kemuliaan hati, telah  menginspirasi banyak orang.  Yang biasa dilakukan Aabid Surti “hanya” berkeliling ke komplek apartemen di Mira Road, Mumbai, India bersama tukang ledeng di belakangnya. Kemudian jika melihat ada pipa atau kran air bocor, mereka akan menawarkan diri untuk membetulkan kran tersebut secara gratis.

Tentu tindakan Aabid tersebut tidak datang tiba-tiba. Awalnya, di tahun 2007, ketika sedang duduk di rumah temannya, Aabid melihat kran yang airnya terus menetes. Aabid merasa terganggu dan menanyakan ke temannya kenapa kran tersebut dibiarkan terus menetes airnya dan tidak diperbaiki? Temannya menjawab bahwa biayanya untuk sekedar memperbaiki kran bocor kecil itu terlalu mahal, dan biasanya tukang ledeng juga tidak mau datang jika hanya untuk memperbaiki hal kecil.

Beberapa hari setelahnya, ia melihat statistik di majalah yang menyatakan bahwa satu tetes air yang jatuh setiap detiknya dari kran yang bocor, sama saja membuang ribuan liter air dalam sebulan. Kemudian munculah ide itu : membawa tukang ledeng dari rumah ke rumah untuk memperbaiki kran/pipa air yang bocor. Demikianlah, tidak hanya sekedar ide, tapi Aabid benar-benar melakukannya dengan berkeliling dari kompleks apartemen satu ke kompleks lainnya setiap hari Minggu, menawarkan diri untuk memperbaiki kran bocor, bersama tukang ledeng yang berjalan di belakangnya. Sebuah tindakan yang sederhana dan murah, tapi dampaknya besar.

Di tahun pertama, mereka telah mendatangi 1533 rumah dan memperbaiki 400 kran. Pelan-pelan apa yang dilakukan Aabid diperhatikan orang. Kini setelah hampir tujuh tahun, kita tidak tahu berapa juta liter air yang telah diselamatkan oleh Aabid dan tim-nya, tapi yang jelas upaya yang dilakukan Aabid mendapat dukungan dari banyak kalangan mulai sutradara Shekhar Kapur sampai artis Shah Rukh Khan, bahkan dari aktivis konservasi dari Jerman. Ironisnya, pemerintah negara bagian tempat Aabid tinggal, baru menyadari soal pentingnya konservasi air pada tahun ini, dengan mengingatkan warga untuk menghemat air. Sementara itu, kementerian terkait sedang melobi untuk mendapatkan anggaran jutaan dollar untuk mengatasi kekeringan.

Apa yang dilakukan Aabid sangat relevan untuk ditiru di mana-mana, termasuk Indonesia. Di negeri ini, setahu saya, yang menyia-nyiakan air dan kekurangan air sama banyaknya, tapi belum ada seorang seperti Aabid. Saya sering melihat air menetes sia-sia dari kran yang bocor, pun sering melihat rumah tangga yang kesulitan mendapatkan air bersih. Rumah tangga yang ada di permukiman miskin dan informal di Jakarta misalnya, tiap hari harus membeli air dari penjual keliling yang kadang menghabiskan sepertiga pendapatan perhari mereka.  Desa saya, yang masuk wilayah kabupaten Grobogan, pun sering dilanda kelangkaan air bila kemarau tiba. Untuk mengatasinya, orang tua saya akan menghemat air sumur yang tinggal sedikit dan keruh dan perlu diendapkan beberapa waktu sebelum dipakai. Kalau benar-benar habis, biasanya akan membeli air dengan harga yang setiap tahun semakin mahal. Kalau ramalan bahwa dalam beberapa tahun ke depan krisis air di pulau Jawa akan semakin parah itu benar, tentu penderitaan warga di desa saya semakin berat.

Kalau sebagian warga masyarakat biasa menyia-nyiakan air, maka yang dilakukan pemerintah dan korporasi  malah cenderung merusak cadangan air atau menjadikannya sebagai komoditas yang memberikan keuntungan tinggi. Soal krisis air serta banjir tidak cukup karena perilaku orang-per rang, tapi memang ada kebijakan skala luas yang menyebabkannya. Di Jawa khususnya, 16 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang selama ini menjadi wilayah infiltasi air hujan, cadangan air tanah, pencegahan erosi dan sedimentasi tanah dan pencegahan pencemaran air, telah rusak atau kritis.   Kritis dan rusaknya DAS tersebut tentu terkait dengan alih fungsi lahan, baik untuk lahan pertanian, perumahan, maupun infrastruktur lainnya.  Maka tak heran kalau musim kemarau tiba, sebagian besar wilayah di Jawa menjadi krisis air, tapi ketika musim hujan datang, banjir juga melanda daerah tersebut. Wilayah di sepanjang DAS Bengawan Solo adalah contohnya.

Bukannya rusaknya DAS ditangani dengan baik, tapi justru pemerintah seperti membuka luka baru lagi, dengan memberikan ijin bagi korporasi melakukan eksploitasi daerah yang selama ini menjadi daerah cadangan air bagi masyarakat dan kehidupan makhluk di sekitarnya, misalnya  pemberian ijin atas rencana ekspoitasi pegunungan Kendeng Utara untuk dijadikan wilayah pemasok bahan baku semen sekaligus pabriknya. Bahkan tidak cukup di situ, pemerintah provinsi Jawa Tengah juga mengubah Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah (RTRW) untuk memuluskan rencana eksploitasi tersebut. Padahal pegunungan Kendeng Utara merupakan kawasan kars yang terdapat banyak sekali sumber mata air. Menurut penelitian ASC Yogyakarta, terdapat 33 sumber mata air di kawasan kars Grobogan, dan 79 sumber mata air di kars Pati. Dan, keseluruhan sumber mata air tadi airnya terus mengalir dengan debit yang konstan. Tapi, kini kedua wilayah tersebut sedang diincar untuk dieksploitasi, dan warganya dipecah-belah.

Tapi sudahlah, terlalu banyak untuk disampaikan. Yang jelas, seperti termuat dalam beberapa laporan internasional, banyak negara mengalami krisis air, tidak hanya India dan Indonesia. Upaya-upaya juga telah dilakukan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat sipil untuk mengatasinya. Tapi kita tahu, kerusakan dan krisis berjalan lebih cepat daripada upaya pencegahan dan perbaikan. Walaupun begitu, upaya “kecil” yang telah dilakukan oleh Aabid Surti perlu diapresiasi dan ditiru, tentu sesuai dengan konteksnya masing-masing. Yang menarik dan sering di luar perhatian kita, sejalan dengan Seyyed Hossein Nasr, Aabid memandang air sebagai sesuatu yang sakral. Sehingga pemulihan terhadap krisis alam sekarang ini, pertama-tama adalah memulihkan pemahaman kita terhadap alam sebagai sesuatu yang sakral. Jadi, sangat mungkin bahwa krisis air yang terjadi selama ini akarnya berangkat dari krisis spiritual. Wallahu a’lam

Merobohkan Jembatan Penyeberangan

Saya bagian dari mayoritas warga DKI Jakarta yang menggunakan angkutan umum dan berjalan kaki dalam mobilitas sehari-hari. Wilayah mobilitas biasanya meliputi Jakarta, Tangerang sampai Depok. Kerap kali dalam mobilitas tersebut saya harus melalui jembatan penyeberangan dengan tangga yang curam untuk sekedar menyeberang dari sisi jalan satu ke sisi lainnya. Jelas, jembatan penyeberangan tersebut tidak aksesibel bagi difabel, orang tua, anak-anak dan perempuan hamil.

Di Tangerang misalnya, jembatan penyeberangan Kebun Nanas adalah salah satu yang tercuram. Pernah suatu waktu saya melihat seorang ibu yang sedang hamil membawa tas belanjaan dan menuntun puterinya, tertatih-tatih menaiki tangga demi tangga. Sesekali mereka berhenti untuk mengatur nafas, kemudian naik tangga lagi. Ini tentu menyedihkan. Padahal jembatan penyeberangan ini terletak di lokasi strategis, karena di bawahnya angkutan kota serta bis-bis dengan rute yang menghubungkan JABODETABEK ngetem, menunggu penumpang.

Begitu pula di jalan Margonda, Depok. Dua jembatan penyeberangan yang berada di depan Depok Town Square dan depan Terminal Depok juga curam dan menyusahkan penyeberang jalan. Maka tak heran jika penyeberang sering menerobos pagar pembatas , untuk menghindari naik jembatan penyeberangan. Padahal risikonya besar, karena jalan Margonda adalah salah satu jalan paling berbahaya buat para pejalan kaki, selain jalan Raya Bogor dan jalan Parung-Ciputat.  Tahun lalu, di tiga jalan itu 115 pejalan kaki menjadi korban kecelakaan (Kompas, 30/01/12). Walaupun begitu, bukan berarti jembatan penyeberangan menjadi solusinya. Yang menggembirakan, solusi yang cerdas sudah dimulai di sini, yakni dengan dibuatnya traffic light dan polisi tidur di jalan yang biasa dilewati atau diseberangi mahasiswa-mahasiswi UI dan Universitas Gunadarma, di sekitar Pondok Cina.

Bagaimana dengan Jakarta? Ah, terlalu banyak jembatan penyeberangan yang menyusahkan pejalan kaki. Kita bisa lihat jembatan penyeberangan di sepanjang jalan Sudirman dan Rasuna Said, untuk membuktikan betapa tidak aksesibel bagi difabel, orang tua dan perempuan hamil. Awal bulan lalu, ketika menyeberang dengan menggunakan jembatan penyeberangan di dekat Departemen Hukum dan HAM di jalan Rasuna Said, saya menjumpai seorang bapak tua dengan penglihatan yang sudah terganggu, harus dituntun untuk menaiki tangga tersebut. Orang dengan kondisi seperti bapak tadi pasti membutuhkan pertolongan orang lain untuk sekedar menyeberang jalan.  Selain tidak aksesibel, jembatan penyeberangan di Jakarta juga rawan kejahatan, seperti peristiwa penodongan di Jakarta Barat hampir sebulan lalu (Kompas, 12/03/12).

Seorang yang terganggu penglihatannya dibantu kawannya untuk naik jembatan penyeberangan

Dari keberadaan jembatan penyeberangan saja kita bisa melihat paradigma dan keberpihakan penguasa kota. Kota-kota dikembangkan untuk meladeni kendaraan dan melancarkan pergerakannya, sedang manusia bukan menjadi tujuan utama. Kota juga dikembangkan sebagai pusat konsumsi. Sebab bagi penganjur paradigma ini, konsumsi itu baik, karena mendorong pertumbuhan ekonomi.  Sedang pejalan kaki dianggap tidak banyak menyumbang bagi pertumbuhan ekonomi, karena memang sedikit mengonsumsi. Lain dengan kendaraan bermotor. Semakin banyak kendaraan bermotor menyebabkan semakin banyak konsumsi bahan bakar. Macet tidak apa-apa, bahkan bagus karena akan banyak konsumsi bahan bakar yang, lagi-lagi, menunjang pertumbuhan ekonomi.  Tapi, kota macam begini belum tentu nyaman, lestari dan aksesibel bagi banyak warganya, karena manusia bukan menjadi tujuan utama.

Untuk menumbuhkan kota yang manusiawi, nyaman, lestari dan aksesibel bagi siapa saja, banyak langkah yang bisa dilakukan. Kita bisa mulai dengan langkah “kecil” dan “sederhana”, misalnya dengan merobohkan jembatan penyeberangan. Dengan begini kita juga merobohkan simbol kekalahan manusia dari kendaraan bermotor. Tentu tidak sekedar merobohkan, tapi juga membuat penyeberangan yang manusiawi, seperti penyeberangan yang didukung traffic light, polisi tidur dan zebra cross. Jadi di lokasi-lokasi penyeberangan ini kendaraan bermotor akan berhenti atau berjalan pelan, memberi kesempatan pada pejalan kaki untuk menyeberang. Dengan begini para pejalan kaki, termasuk di sini difabel, orang tua, anak-anak, dan perempuan hamil, bisa menyeberang dengan aman dan nyaman.

Penyeberangan yang aman dan manusiawi ini pada akhirnya juga mendorong warga kota untuk tidak takut atau segan berjalan kaki, bahkan bersepeda. Apalagi jika didukung pedestrian dan jalur sepeda yang memadai. Ruang-ruang publik seperti pedestrian inilah sekarang yang banyak hilang dari kota-kota besar, atau sengaja tidak dirancang ketika sebuah kota dibangun. Dengan demikian, merobohkan jembatan penyeberangan dan membangun penyeberangan yang manusiawi adalah langkah kecil menuju kota  yang benar-benar untuk manusia, bukan kendaraan bermotor.

Permainan Mak Sup

Mas Karto tahu, kalau memboncengkanku dari stasiun Kota ke Tembok Bolong, Muara Baru, pasti ia mengayuh sepeda ojeknya dengan santai, apalagi ketika melewati kawasan Kota Tua. Mas Karto juga tahu betapa sia-sianya mengajakku bicara pada saat seperti itu. Dia baru ngajak ngobrol ketika sudah melewati Kota Tua.

Bagiku, menikmati suasana Kota Tua di atas sepeda seperti memutar waktu ke masa silam, ketika semua hal masih berjalan dengan lambat. Waktu yang diputar ke masa silam kemudian menghadirkan pejuang-pejuang jaman pergerakan yang berjalan menyusuri lorong-lorong gedung-gedung tua itu, bukan bayangan para kumpeni. Bayangan terhadap kota tua di mana-mana selalu sama, seperti juga ketika melintasi Kota Tua di Semarang. Ketika berjalan menyusurinya, seolah aku menjejaki kembali tapak langkah Semaoen yang hilir mudik mengorganisasikan serikat buruh

Walaupun polusi udara tidak bisa menipu, tapi angin sore yang menerpa wajahku dari segala penjuru, segera meruntuhkan kepenatan dan rasa lelah. Belum cukup sampai di situ, rasa lelah yang runtuh itu kemudian remuk dilindas roda sepeda Mas Karto. Suasana dan imajinasi seperti itu membuatku tak bosan-bosan melewati kota tua dimanapun tempatnya.

Sore ini  tidak seperti hari-hari sebelumnya. Suasana Kota Tua itu kalah menarik dari bayangan lain. Di kepalaku hanya ada senyum lebar seorang perempuan setengah tua, seorang organiser perempuan miskin kota. Apalagi aku membawa oleh-oleh hasil dari lokakarya penggunaan permainan untuk penguatan kelompok, yang dilaksanakan di Bandung. Ya, inilah oleh-oleh yang ia inginkan. Kuingat terus pesannya sebelum berangkat, “Bawa oleh-oleh permainan yang banyak ya, biar Emak nanti bisa belajar,” katanya kala itu. Bagi organiser komunitas, permainan untuk penguatan kelompok itu ibarat senjata bagi prajurit, metafora bagi seorang penyair. Semakin banyak permainan yang dikuasai, semakin dia percaya diri.

Untungnya lokakarya di Bandung tersebut memberi banyak permainan, jadi harapan Mak Sup tidak sia-sia. Selain dari fasilitator, permainan baru juga diberikan oleh peserta lain. Memang jauh-jauh hari pantia sudah meminta calon peserta untuk menyiapkan tiga permainan yang dikuasai yang nanti akan diperagakan dan dibagikan kepada peserta lain. Bisa dibayangkan banyaknya jika dari dua puluh peserta setiap orang membawa tiga permainan. Dengan antusias kuamati dan kuingat semua permainan baru, yang belum kukuasai. Bahkan beberapa permainan ada yang kucatat, mulai dari proses sampai peralatan yang digunakan.

“Ah, banjir lagi!”

“Sudah seminggu ini mbak, apalagi tanggulnya jebol,” Mas Karto menjelaskan.

Mas Karto turun dari sepeda, kemudian menuntunnya serta memintaku untuk tidak usah ikut turun. Banjir di Muara Baru seringkali bukan disebabkan oleh derasnya hujan, tapi karena rob air laut. Ini seperti kutukan yang muncul dari tahun ke tahun tanpa ada penanganan. Apalagi sekarang diikuti tanggul jebol, pasti air meluncur bebas dari laut ke permukiman penduduk sampai ke jalan raya Muara Baru. Mobil-mobil pribadi, angkutan umum dan truk-truk seperti direndam dalam baskom bersama sampah-sampah. Tukang becak, penarik gerobak, tukang ojek sepeda dan anak-anak berpesta. Inilah saat mereka memperoleh kemenangan kecil dari pertarungan rutin yang tidak seimbang yang mereka jalani dari hari ke hari.  Mas Karto mlipir mencari celah ruang di antara kendaraan yang macet. Mas Karto sudah lihai memilih jalan sekaligus menyerobot ruas jalan dengan berbekal tangan kiri diangkat dan telapaknya menganga sebagai tanda sebuah permisi juga permintaan maaf.

***

Mas Karto sudah empat tahun menjadi tukang ojek sepeda. Awal kedatangannya di Jakarta, dia menjadi tukang becak yang mangkalnya di dekat pertokoan Roxy. Tapi karena ada penggarukan becak besar-besaran yang berakhir dengan bentrok antara tukang becak dengan aparat Trantib, dia pindah ke perempatan Muara Baru. Tapi lagi-lagi dia kena garuk menjelang tengah malam ketika mengantar penumpang ke jalan raya Hayam Wuruk. Kawan-kawannya di Serikat Becak Jakarta sebenarnya sudah mewanti-wanti untuk tidak terlalu sembrono membawa penumpang ke jalan raya di daerah kota. Malam itu Mas Karto benar-benar apes. Selain becaknya kena garuk, rumah bedeng tempat tinggal bagi dirinya beserta isteri dan dua anaknya yang berdiri di bantaran danau Pluit malam itu juga habis terbakar bersama ratusan rumah lainnya.

Beberapa warga mengatakan permukiman itu sengaja dibakar, karena sebelum terbakar ada orang yang tidak dikenal masuk ke lorong-lorong rumah warga, tapi itu susah dibuktikan. Beruntung Mas Karto ikut organisasi, karena setelah musibah itu kawan-kawan dan juga pelbagai pihak membantunya membangun kembali rumahnya dan meminjami uang untuk membeli becak. Karena uangnya tidak cukup membeli becak, Mas Karto memilih membeli sepeda. Sejak itu Mas Karto beralih menjadi tukang ojek sepeda yang mangkalnya di stasiun Kota. Dan sejak itu pula Mas Karto menjadi langgananku, setia mengantar dari stasiun Kota ke kampung-kampung di kawasan Muara Baru.

***

Dengan cekatan Mas Karto membelokkan sepedanya ke gang yang diapit rumah-rumah yang atapnya menjorok ke jalan setapak. Rumah-rumah berdempetan seperti tanpa celah satu senti pun. Dinding-dindingnya dari triplek dan seng. Atap-atap rumah juga dari seng yang dibebani dengan bata atau batu dan kadang-kadang sepeda anak-anak yang telah rusak pun dipakai agar angin yang datang tidak membawa kabur atap-atap seng itu. Kerumunan orang seolah tidak pernah habis di sepanjang gang itu. Apalagi ketika air rob masuk ke rumah-rumah seperti sekarang, mereka lebih memilih duduk di beranda depan rumah.

“ Mbak Epi, mampir!” Mbak Sayem berteriak dari dalam rumahnya. Aku tidak keberatan orang-orang kampung memanggil Epi, tapi hanya heran kenapa ibu-ibu kampung itu susah sekali mengucapkan huruf V, sehingga nama Evi pun dipanggil Epi.

“Eh, Mbak Sayem. Apa kabar?” Aku meminta Mas Karto berhenti sebentar agar aku bisa berbincang dengan Mbak Sayem.

“Mbak Epi tahu sendiri, tuh rumah tergenang. Sudah seminggu ini, Mbak. Apalagi Santi kena diare lagi, jadi tambah pusing deh saya” keluh Mbak Sayem. Santi adalah anaknya satu-satunya yang kini berumur sekitar tiga tahun, buah perkawinannya dengan Mas Cahyo.

“Hmm, sudah diperiksakan ke dokter?”

“ Sudah ke Puskesmas kemarin, tapi sampai sekarang badannya masih panas.”

Tidak lama aku berbincang dengan Mbak Sayem. Aku hanya berjanji untuk menyampaikan apa yang menimpa Mbak Sayem, terutama sakitnya Santi, kepada kelompok-kelompok tabungan lain, agar mereka mengetahui dan setelah itu akan melakukan sesuatu sebagai bentuk solidaritas, seperti biasanya.

Sapaan yang muncul dari permukiman miskin, seperti yang dilakukan Mbak Sayem itu selalu membahagiakanku. Apalagi kalau aku bisa berbincang dan sedikit bisa menyemangatinya. Suatu waktu aku pernah menceritakan hal ini pada Dony, kekasihku, tapi  Dony menanggapinya biasa saja.

Telah tujuh tahun berpacaran dengan Dony, tapi aku merasa semakin hari kami semakin asing satu sama lain. Kurasa Dony telah berubah akhir-akhir ini. Cita-cita dan semangat mengubah keadaan masyarakat yang ada pada dirinya dulu, sepertinya kini sudah menguap. Kami semakin sering berdebat. Awalnya soal pilihan pekerjaan, tapi akhirnya hal-hal sepele bisa jadi bahan pertengkaran. Padahal orang tua kami baru saja bertemu dan meminta kami untuk segera menikah, terutama ibuku. Jikalau Dony tidak berubah seperti sekarang ini, tentu aku dengan senang hati menyambut permintaan orang tua tersebut. Kini, aku menjadi ragu terhadap hubungan ini.

“Mbak, sudah sampai. Mbak…mbak,” teguran Mas Karto membuyarkan lamunanku.

“ Eeh, sori Mas, ngelamun tadi…hehe?”

“ Mau ditunggu nggak, mbak?”

“ Gak usah, mungkin agak lama ini”

“ Baik, Mbak.” Mas Karto kembali mengayuh sepedanya menuju stasiun Kota setelah kubayar jasanya.

Rumah Mak Sup terlihat sepi dari biasanya. Setelah kuucapkan salam dan tidak ada jawaban, aku langsung masuk saja. Ruangan depan nampak gelap karena semua jendela ditutup, dan pintu depan hanya dibuka setengah. Terdengar isak tangis dari bale-bale yang ada di ruang depan, tempat biasa Mak Sup tidur.

“Mak…mak,” aku mencoba memanggil Mak Sup sambil melangkah mendekati arah tangisan. Suara tangisan berhenti. Mak Sup membalikkan badan kemudian beranjak duduk dan memandang wajahku.

“ Epi?”

“Iya, Mak,” jawabku pendek.

Aku duduk di sebelah Mak Sup kemudian memeluknya erat. Mak Sup kembali terisak.

“Ada apa, Mak?” tanyaku

“ Gendhuk, Pi.”

“Ada apa dengan Gendhuk?”

Mak Sup kemudian cerita bahwa Gendhuk, anak perempuan satu-satunya, mendapat masalah di Arab. Baru saja teman Gendhuk  di Arab memberi kabar kalau Gendhuk beberapa waktu ini sering dianiaya majikannya, hanya karena ia meminta upah yang belum dibayar. Kembali air mata Mak Sup jatuh.

“Oke, Mak. Besok kita laporkan ke lembaga yang ngurusin soal ini. Yang penting emak siapin berkas-berkas berkaitan dengan keberangkatan Gendhuk ya,” kataku menenangkan.

Iya, Pi. Terima kasih.”

“Ngomong-ngomong, kamu bawa oleh-oleh permainan itu?” lanjut Mak Sup.

“Tentu, Mak,” jawabku.

Lalu kuceritakan soal permainan-permainan yang kudapatkan, tapi tidak semuanya. Hanya yang menurutku menarik dan pas kalau digunakan di kelompok-kelompok tabungan perempuan miskin kota. Mak Sup mendengar dengan penuh antusias, sesekali mengajukan pertanyaan.

“ Kalau permainan yang membuat orang tertawa dan bergembira terus ada gak, Pi?”

“Haha, ya gak ada kalau tertawa terus-terusan, Mak. Tapi ada permainan yang ketika dilakukan, peserta menjadi tertawa dan bahagia,” jelasku.

“Permaianan apa, itu?” tanya Mak Sup.

“ Lingkaran Tertawa namanya,” jawabku.

“Oke, ajari aku ya, Pi. Nanti kalau sudah bisa, akan kupraktekkan setiap hari bersama teman-teman agar mereka tertawa dan bahagia setiap hari,” ujar Mak Sup.

“Kamu mau ikut permainan itu setiap hari, Pi?” pertanyaan Mak Sup mengagetkanku.

“Ah, enggak tahu, Mak,” jawabku pendek.

“ Kalau kamu lagi sedih, ikut saja,” ujar Mak Sup

“Ah, aku gak lagi sedih kok, Mak”

Mata Mak Sup menatapku, dan kuberanikan juga menatapnya. Aku seperti berkaca melalui bola matanya. Wajahku nampak kusut, ada mata panda di wajahku. Bulatan hitam itu semakin hitam dan melebar. Warna rambutku juga mulai mengikuti warna rambut Mak Sup. Sementara wajah Dony berkelebat di belakang rambut Mak Sup, sambil tersenyum.

Franky di Halaman Rakyat, di Perkampungan Bunga

Beberapa tahun lalu, saya termasuk orang yang menyayangkan perubahan yang terjadi dalam  diri Franky Sahilatua. Hati saya seperti mengatakan,”Mengapa orang yang dikarunia talenta besar dalam bermusik sekarang malah sibuk dalam hiruk pikuk perpolitikan negeri ini”. Saya takut dia akan bernasib seperti idola saya yang lain, Rhoma Irama. Rhoma yang cemerlang sebagai penyanyi dan pencipta lagu dangdut mulai kehilangan pamornya ketika masuk Partai Persatuan Pembangunan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti tidak punya arti lagi, apalagi menghibur.  Saya takut tidak akan ada lagi lagu seperti “ Kepada Angin dan Burung-burung” atau “Musim Bunga” yang mengalun manis dari dirinya dan Jane. Ketakutan itu mungkin bagai sebuah aquarium, dimana orang yang saya kagumi harus tetap dalam posisi ideal atau minimal tidak keluar dari kerangka yang saya bayangkan. Kalau perlu, tidak usah melakukan apapun agar yang baik yang pernah dia perbuat tetap tidak terusik oleh kekurangan. Ketakutan saya terhadap Franky  berakhir dengan pemakluman. Apalagi, seperti dikatakan Franky  sendiri dalam sebuah perbicangan bersama kawan-kawan UPC di warung komplek TIM tahun 2004 lalu, bahwa dia tidak bisa berkonsentrasi dalam dua hal yang berbeda. Harus total dalam satu bidang saja. Kalau mau bermusik ya harus meninggalkan politik, dan kalau berpolitik ya  meninggalkan musik, katanya. “ Saya tidak bisa menulis lagu kalau sedang dalam aktifitas gerakan,” katanya dulu. Dan dia memang telah memilih terlibat dalam gerakan sosial. Berpolitik walaupun tidak masuk partai politik. Franky tidak salah. Mungkin memang harus seperti itu.  Seperti juga Rendra yang tidak hanya berubah tapi bahkan mengritik para penyair salon yang hanya bersajak tentang anggur dan rembulan. Seniman memang tidak boleh lepas dari realitas sosial, mungkin begitu pilihan Franky.  Dan Franky tak hanya tidak terlepas dari realitas sosial dalam lirik lagunya saja, tapi akhirnya merembet ke gerak hidupnya. Demikianlah, setelah berkawan dengan para politisi Franky juga berkawan dengan aktifis gerakan sosial dan pro demokrasi, bahkan terlibat serius di dalamnya. Waktu ketemu di TIM dulu dia juga menjadi bagian dari Pergerakan Indonesia (PI), dan entah mulai kapan pada akhirnya dia menjadi bagian dari ormas Nasional Demokrat (NASDEM). Perubahan yang terjadi pada Franky di satu sisi menggembirakan bagi kelompok pro demokrasi atau gerakan sosial karena Franky termasuk seniman yang ringan tangan kalau dimintai tolong. Misalnya pada tahun 2002-2003 UPC meminta tolong dia untuk mendatangi, memberi semangat dan membagi ilmu soal musik ke kelompok-kelompok penyanyi jalanan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Franky dengan senang hati bersedia, tanpa bicara berapa honor yang musti dibayarkan untuk itu. Tentu saja kelompok-kelompok penyanyi jalanan yang didatangi sangat senang dan antusias dengan kedatangannya. Tahun-tahun berikutnya sepertinya Franky tak pernah absen dalam kegiatan kelompok-kelompok pro-demokrasi dan gerakan sosial seperti petani, buruh migran, dan lain sebagainya. Di sisi lain, sepertinya benar kata Franky tentang dirinya sendiri yang kesulitan bergerak dalam dua aktivitas yang membutuhkan totalitas, musik dan gerak politik. Walaupun akhirnya ada juga lagu yang tercipta untuk tujuan gerakan, tapi  menurut saya tetap saja tidak seindah dulu ketika dia belum bersentuhan dengan dunia gerakan. Bagaimanapun Franky kini telah merampungkan tugasnya. Dia kini tinggal memanen benih bunga yang dia sebar di halaman rakyat, di perkampungan bunga.

Kekerasan dan Budaya Kehormatan Diri

Akhir tahun lalu dalam sebuah diskusi di sebuah sessi pelatihan menulis etnografi di Makassar yang diadakan Yayasan Desantara dan LAPAR Makassar, Pak Bambang dari jurusan Sejarah UNHAS menyinggung tentang pemahaman yang keliru sebagian orang terhadap Siri’. Akibat dari pemahaman yang keliru atau hanya sebatas permukaan tersebut adalah munculnya kekerasan di masyarakat. Saya tidak tahu apakah seringnya mahasiswa di Makassar yang melakukan tawuran juga karena hal tersebut. Kalau menurut dugaan Widyastuti, psikolog dari Universitas Negeri Makassar, memang hal tersebut dipicu oleh penempatan makna yang keliru dari Siri’.[1] Bisa jadi begitu, misalnya dengan melihat sebab-sebab dari  beberapa tawuran yang dimuat di media massa; ada kaitan dengan balas dendam karena kampus atau fakultasnya dirusak, saling ejek, terganggu dengan teriakan/orasi demonstrasi, arogansi dalam pelaksaan Opspek, terganggu suara motor, dan lain sebagainya.[2]

Prof. Matullada juga pernah menyampaikan kalau Siri’ dalam makna harga diri dan keteguhan hati yang positif telah mengalami “degradasi” baik struktural maupun fungsional. Siri’ sebenarnya konsep atau bisa dikatakan pandangan hidup masyarakat Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja) yang mendorong masyarakat untuk kerja keras, berprestasi, berjiwa pelopor dan berorientasi keberhasilan seperti yang pernah disampaikan Prof. Abu Hamid. Yang jelas dari beberapa pendapat orang yang pernah meneliti soal ini ada beberapa kata kunci untuk memahami apa itu Siri’.[3] Setidaknya malu, kehormatan, harga diri menjadi bagian dari kata kunci tersebut.

Bisa saja pandangan terhadap Siri’ yang terdegradasi ini mirip dengan “budaya kehormatan diri” yang hidup di wilayah Selatan Amerika Serikat dimana kekerasan kerap terjadi. Tetapi, sekali lagi, kita membutuhkan penelitian yang mendalam untuk bisa mengambil kesimpulan yang jernih. Walaupun begitu kita bisa belajar apa yang terjadi di Southern United States tersebut, terutama tentang kaitan antara pewarisan kekerasan, budaya kehormatan diri dan lemahnya otoritas negara.

*

Wilayah Selatan Amerika Serikat terkenal mempunyai tingkat kejahatan dengan kekerasan, khususnya pembunuhan, yang tinggi. Pada tahun 2003 misalnya, tingkat kejahatan dengan kekerasan mencapai 549,3 per 100.000 penduduk dan menyumbang sekitar 46,1 % dari kejahatan dengan kekerasan yang terjadi di seluruh Amerika Serikat. Bahkan fakta dari tahun 1976 sampai 2003 yang diungkapkan oleh Uniform Crime Reporting Program’s Supplementary Homicide Reports menyebutkan Wilayah Selatan secara rutin mempunyai rata-rata tingkat pembunuhan 1,2 sampai 1,5 kali lebih tinggi dari rata-rata jumlah penduduk.[4]

Beragam analisis muncul atas kekerasan yang tinggi di wilayah Selatan Amerika Serikat tersebut. Ada yang menyebut bahwa faktor-faktor struktural yang menjadi biang dari masalah kekerasan tersebut, seperti tingginya tingkat kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan pendidikan, dan sebagainya. Ada juga yang menyebut ketegangan sosial sebagai pemicunya. Ketegangan sosial terjadi karena Kulit Putih yang miskin merasa disisihkan oleh Kulit Putih kaya atau kesuksesannya tidak dianggap. Selain itu juga karena Kulit Hitam yang tidak diakui hak-haknya, sehingga mereka menjadi frustrasi yang keluarannya adalah tindak kekerasan. Di sisi lain, ada yang menyebut faktor kultural berperan dalam tingginya kekerasan di wilayah Selatan tersebut.

Sejarah  membuktikan bahwa sejak awal ditempatinya daerah Selatan Amerika Serikat ini, kekerasan dengan pembunuhan sudah menjadi hal yang lumrah. Di luar Indian, pemukim pertama di daerah tersebut adalah para narapidana dari kepulauan Inggris, kemudian sebagian besar imigran Skotlandia-Irlandia, serta Inggris bagian tenggara. Imigran ini menemui lahan-lahan kosong tanpa pemilik, tidak ada infrastruktur, lepas dari jangkauan mekanisme negara yang bisa melindungi rumah dan harta miliknya.

Dalam Outliers, tepatnya di bab 6, Malcolm Gladwell memaparkan persoalan budaya kekerasan selain terkait dengan kondisi lahan, juga dipengaruhi oleh latar belakang para penghuninya.  Menurutnya ini bukan persoalan Utara atau di Selatan Amerika, tetapi budaya ini cenderung muncul di daerah pegunungan atau yang tanahnya tandus. Pegunungan Appalachia di Amerika, Sicilia di Itali dan Basque di Spanyol adalah beberapa contoh daerah dimana budaya tersebut muncul dan berkembang. Di pegunungan atau wilayah yang tandus, bertani jelas menjadi perkara yang sulit sehingga kehidupan menjadi penggembala ternak menjadi pilihan utama.

Berbeda dengan petani yang tidak terlalu kuatir dengan pencurian tanaman di ladangnya,  penggembala ternak sebaliknya. Mereka rentang kehilangan terhadap seluruh basis sumberdaya yang dimilikinya karena pencurian. Apalagi  negara atau otoritas formal lemah atau bisa dikatakan selalu absen sehingga tidak bisa mencegah atau menghukum pencurian. Hal ini membuat mereka dipaksa menjadi pelindung diri mereka sendiri. Mereka harus agresif, bersikap tegas melalui kata-kata dan tindakannya. Untuk melindungi dari ancaman pencuri mereka juga “dipaksa” mengadaptasi budaya “pencitraan” dengan mengampanyekan diri sebagai orang yang tangguh yang tidak bisa disepelekan.

Mereka juga harus siap berkelahi untuk menanggapi tantangan terhadap reputasinya.  Inilah yang kemudian berkembang menjadi “budaya kehormatan diri” ( culture of honor), di mana setiap penghinaan atau ancaman terhadap keluarga, kekayaan, atau orang akan direspon dengan cepat dan keras. Akhirnya sistem yang berkembang dalam lingkungan seperti itu adalah sistem yang didefinisikan sebagai “the rule of retaliation”. Hukum balas dendam!

Dalam budaya kehormatan diri ini pembunuhan menjadi jamak. Alasannya bukan persoalan ekonomi tapi masalah pribadi. Gladwell memberikan sebuah contoh dari pengalaman wartawan Hodding Carter yang waktu mudanya pernah menjadi salah seorang juri pengadilan di sebuah kasus pembunuhan. Terdakwanya seorang pria yang terkenal gampang naik darah yang sering menjadi ejekan orang. Suatu hari dia menembak salah seorang yang mengejeknya dan melukai yang lainnya. Yang luar biasa, hanya Carter yang menyatakan orang itu bersalah, juri lainnya memaklumi perbuatan tersebut dengan alasan demi kehormatan diri!  Tak heran jika sejak tahun 1860-an sampai awal abad 20,  di kota Dataran Cumberland yang penduduknya tak pernah lebih dari lima belas ribu orang, telah ditemukan adanya seribu pembunuhan.

Yang menarik soal budaya kehormatan diri bukan hanya kekerasan yang ditimbulkannya, tapi pewarisannya. Kekerasan yang terjadi di sekitar pegunungan Appalachia, menurut Gladwell lagi, bisa dirunut mulai dari abad 18, bahkan sebelumnya ketika imigran masih berada di tempat asalnya.  Budaya kehormatan diri tersebut diwariskan dari generasi ke generasi, dari keluarga ke keluarga dan dari tempat satu ke tempat lainnya. Saya tidak tahu apakah ini soal yang aneh, hebat, atau mengerikan. Mungkin, bisa saja, ketiga-tiganya sekaligus.

 

( dimuat di http://desantara.org pada 16-02-2011)

 

 

 

 


[3] Pendapat Prof. Abu Hamid dan beberapa tokoh Sulawesi Selatan soal Siri’ bisa dibaca di; Moh. Yahya Mustafa. dkk,  Siri’ dan Pesse’, Harga Diri Orang  Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, Pustaka Refleksi, Makassar, 2003.

[4] Data tentang kejahatan dengan kekerasan ini serta sebagian sejarah wilayah Selatan Amerika Serikat saya ambil dari disertasi Hayes yang bisa diunduh di http://etd.lsu.edu/docs/available/etd-07022006-123237/unrestricted/Hayes_dis.pdf

Pak Adil dan Segala Keribetan Kami*

Wajahnya sekilas mengingatkan saya pada Mang Udel, pemilik losmen di sinetron Losmen yang terkenal pada era 80-an, yang sangat piawai memainkan ukulele. Kali ini bukan ukulele yang jadi pegangannya setiap hari, tapi setir mobil. Namanya Pak Adil, yang sudah belasan tahun menjadi sopir di sebuah rental mobil. Usianya memang sudah lewat satu abad, tetapi jangan tanya soal gaya menyetirnya: cekatan dan berani ambil risiko. “Kalau butuh apa-apa dan pingin membeli sesuatu, bilang saja ya, nanti saya akan berhenti,” kata Pak Adil  sambil meletakkan botol minuman mineral ke ceruk tempat air di depan rem tangan dan kotak snack di atas dashboard .  “Nanti kalau ketemu apotik berhenti ya, Pak” Rizka langsung menyambut tawaran Pak Adil.

Pagi tanggal 3 Desember itu Pak Adil  yang akan mengantarkan kami, para peserta pelatihan menulis yang diadakan Eka Tjipta Foundation, ke pusat pelatihan di kebun teh Nirmala, dekat Taman Nasional Gunung Halimun. Ada empat mobil yang dipakai untuk mengantar peserta, saya berada di mobil satu bersama lima teman lainnya. Mobil APV warna hitam terisi penuh, dengan Rizka duduk di depan, di samping Pak Adil; Puri dan Husni di belakang; sedang saya, Maliya dan Denok di tengah. Sebelum Rizka mengusulkan pindah tempat duduk, saya juga sudah merasa aneh dengan duduk diapit perempuan, sehingga ketika Rizka menawarkan ganti tempat, saya langsung setuju. Demikianlah, akhirnya saya duduk di depan di samping Pak Adil.

Jalanan masih basah ketika kami meluncur meninggalkan BII Tower di jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat menuju Bogor. Lagu-lagu yang keluar dari radio-tape merk JVC terdengar stabil mengiringi kami, walaupun kebanyakan tidak pernah saya tahu siapa yang menyanyikannya. Ketika perjalanan memasuki jalan tol dekat Sentul, suara dari radio-tape menjadi tidak jelas, timbul-tenggelam dan suara gemerisik lebih dominan daripada nyanyian.

Denok mulai bereaksi, “Mas, mbok dibenerin radionya, cari lagu yang bagus”. Saya mulai memencet-mencet tombol radio dan perpindahan frekuensi yang telah disetel secara otomatis. Tetap tidak ada radio yang jelas .

“Memang kalau sudah sampai sini tidak ada radio yang bagus suaranya. Ganti tape saja ya,” Pak Adil ikut nimbrung.

“Iya, Pak”.

Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut saya karena memang tidak punya ide lain untuk mengatasi masalah radio itu.

Ternyata yang ada hanya kaset dangdut lama, saya juga tidak  tahu siapa yang menyanyikannya. Suara yang keluar nampak berat sehingga Pak Adil perlu memutar volume ke level 15, dari level 10. Maliya yang duduk di sebelah Denok tidak peduli dengan kesibukan kami, dia telah damai dengan perangkat MP3 dan earphone warna biru langit miliknya. Ternyata dia sudah asyik menikmati musik dari tadi, sendiri tentu saja.

Pak Adil membelokkan mobil ke pom bensin dan mempersilakan kami untuk buang air atau membeli sesuatu. Rizka, Malia, Denok, dan Husni turun, sedangkan saya dan Puri tetap di mobil. Tak berapa lama teman-teman sudah balik ke mobil lagi. Denok dengan heboh menceritakan tulisan di dinding toilet yang menurutnya lucu. “Masak ada tulisan ‘yang coret-coret di sini tidak berpendidikan’, terus di bawahnya ada tulisan lagi ’berarti kamu tidak berpendidikan’, lantas di bawahnya ada lagi tulisan ‘sesama tidak berpendidikan dilarang ribut’…hahaha” cerita Denok. Rizka ikutan tertawa, tapi Maliya tidak, karena sibuk dengan perangkat MP3-nya.

Setelah beberapa saat melanjutkan perjalanan, kami tiba di Saung Kuring, tempat yang disepakati untuk makan siang. Belum sampai jam sebelas siang, dan saya merasa belum terlalu lapar benar. Tetapi ternyata menunggu makanan siap juga tidak sebentar, sehingga jam dua belas kami baru makan. Sekitar dua jam kami di Saung Kuring, kemudian berangkat lagi tanpa Puri karena dia pindah ke mobil Dua. Sebelumnya Mas Andreas menawarkan kalau ada yang mau pindah mobil agar mobil kami tidak terlalu penuh. Dan Puri menyambutnya. Kemudian Denok pindah ke kursi belakang, menemani Husni. Karena sudah siang, udara juga semakin gerah, sehingga Rizka dan Husni meminta AC ditambah levelnya agar lebih dingin. Sebenarnya bukan karena levelnya yang rendah, tetapi karena saluran pendingin hanya ada di depan sehingga udara dingin tidak sampai ke teman-teman yang duduk di tengah dan di belakang. Ini yang bikin repot. Yang tengah dan belakang kegerahan sedangkan kami yang di depan kedinginan. Pada akhirnya Pak Adil memakai jaket.

Selama perjalanan, terhitung tidak hanya satu atau dua kali kami berhenti untuk buang air atau membeli obat, baterai dan segala kebutuhan kami. Kami berhenti empat kali! Ini salah satu sebab mengapa kami tertinggal dari rombongan peserta lainnya. Pak Adil sudah banyak diamnya, dibanding waktu awal berangkat. Saya berharap Pak Adil tidak menyesal ketika sebelumnya mengatakan, “Kalau butuh apa-apa dan pingin membeli sesuatu, bilang saja ya, nanti saya akan berhenti”.

 

*tulisan ini merupakan hasil tugas menulis deskripsi, pelatihan narasi ETF di villa Nirmala, 3-8 Desember 2010

 

Seorang Romo dari “Sicilia”


Dia selalu mengidentifikasikan diri sebagai orang cerdas dan penuh muslihat. Setelah berhasil mengelabui teman-temannya, dengan bangga dan jumawa mengatakan, “ Lha agen  Mossad kok diremehkan.” Kalau tidak agen Mossad, ya sebagai mafia Sicilia atau IRA dia menyebut dirinya berasal.

Saya percaya teman saya ini penuh muslihat tapi, kalau soal cerdas,nanti dulu.

*

Saya mengenalnya ketika kami satu kelas di kelas dua SMP, tahun 1986. Dia salah satu dari berjibunnya murid tunggakan di kelas kami. Saya tidak tahu, dan sebagian besar murid juga , kenapa banyak sekali anak tunggakan di kelas kami. Terhitung ada lima orang!  Di kelas sebelah juga ada murid tunggakan, tetapi paling banyak dua orang. Apakah guru-guru tidak berhitung terhadap dampaknya terhadap murid-murid yang lain? Ternyata, dampak itu memang menimpa saya. Mulai di kelas dua ini, tentu saja atas ajakan beberapa murid tunggakan, saya mulai membolos sekolah. Tidak jelas sebenarnya yang kami lakukan waktu membolos itu. Kadang cuma tidur di kos saya, atau di kos teman yang lain. Si agen Mossad termasuk salah satu murid yang gemar membolos. Maka tak heran jika salah satu guru kami menyebutnya “Sang Juara Lompat Tinggi.”  Sebagai olok-olokan saja, karena kebiasaan teman saya ini yang membolos dengan melompat tembok  sekolah kami.  Kebiasaan ini juga yang menjadi salah satu sebab dia tidak naik kelas.

Ternyata kebiasaan membolos itu masih berlanjut sampai SMA, walaupun kami berbeda sekolah.  Suatu ketika si “agen Mossad” ini mengajak bolos sekolah “hanya” untuk mengirimkan (tepatnya menaruh) kartu ucapan hari Valentine ke tiga orang teman perempuan dalam sehari. Ini jelas maksudnya apa.  Orang di kampung saya biasa menyebut tindakan ini seperti orang mbranjang manuk, atau menjala burung. Memasang jala di tempat biasa burung mencari makan atau minum, seperti pinggiran sungai. Dengan memasang jala ini diharapkan setidaknya ada satu atau dua burung yang nyangkut. Dan ternyata, tindakan mbranjang tersebut berhasil. Tapi si agen Mossad tidak menindaklanjutinya, dengan alasan yang tidak jelas.

Bagaimanapun, saya patut berterima kasih terhadap teman saya satu ini. Dia salah satu teman yang memperkenalkan saya terhadap dunia. Pemahaman tentang budaya dan praktik berteman, bertambah karena dia. Soal musik misalnya. Awalnya saya tidak paham coretan-coretan pilox yang ada di dinding luar rumahnya. Ada tulisan “ Pink Floyd” dan “The Wall” dengan pilox warna hitam dan putih. Juga beberapa koleksi album Pink Floyd di dalam kamarnya. Saya tidak pernah tertarik menyetelnya. Saya dan juga teman lain lebih sering menyetel First Love-nya Nikka Costa atau Can’t Fight This Feelling milik Reo Speedwagon, kalau main ke rumahnya. Tapi saya penasaran juga akhirnya, karena setiap masuk ke kamarnya, kok yang paling sering dia putar musik Pink Floyd. Saya mulai mencoba ikutan mendengarkan, tapi masih terasa aneh kala itu. Kira-kira sepuluh tahun kemudian, saya baru bisa menikmati musik Pink Floyd itu dan tidak bisa lepas sampai sekarang.

Saya bukan musikolog, juga tidak bisa memainkan satu pun alat musik. Selama ini saya hanya sebagai penikmat, walaupun tetap punya pilihan musik mana yang layak dinikmati. Kesukaan saya pada musik Pink Floyd juga karena itu, nikmat di kuping. Setelah bisa menikmati musiknya, kemudian mulai mengumpulkan album-albumnya dengan memburu di loakan-loakan kaset, khususnya di Jatinegara dan pasar Johar. Ini yang menjadikan hari Sabtu atau Minggu saya dulu menjadi lumayan indah. Dari semua album Pink Floyd, hanya tiga yang sering kuputar : The Wall, Wish You were Here dan The Dark Side of The Moon. Sayangnya, tidak seperti kaset pita, rekaman konser entah dalam CD atau DVD susah ditemukan.

Setahu saya, Mas Budiarto Shambazy, wartawan senior Kompas, juga menyukai Pink Floyd. Ini terlihat dari beberapa kali dia menulis esai atau liputan tentang Pink Floyd. Yang masih saya ingat adalah tulisannya pada 16 Agustus 2003 yang berjudul “ Kala Separuh Bulan Tiba-tiba Menjadi Gelap….” Di situ disebutkan bahwa pada tahun 1990 di Australia, pendengar radio melalui jajak pendapat memilih The Dark Side of The Moon sebagai album terbaik untuk didengar sambil bercinta.  Mas Budiarto tidak menyatakan pendapat apakah dia sepakat dengan jajak pendapat itu dalam tulisannya. Saya pun tidak punya pendapat, karena belum mencobanya.  Saya yakin teman saya yang satu ini juga tidak bisa memberikan pendapatnya, walaupun dia penggemar tulen Pink Floyd. Bukan karena dia telah direkrut oleh Mossad atau mafia Sicilia, tetapi karena dia kini telah menjadi “agen” Serikat Jesus, yang salah satu syaratnya adalah komitmen terhadap  kaul kesucian. Bukankah begitu, Romo?