coretan kebun belakang

kota, buku, "mimpi"

Radang Usus Buntu dan Slow Food Movement

dengan 4 komentar

Tidak ada yang aneh ketika saya sampai di Jogja tanggal 17 April lalu untuk menepati janji menjadi salah satu narasumber di pelatihan kader dasar PMII UGM. Tidak juga kebetulan jika malam setelah acara pelatihan itu dan dilanjut sehari setelahnya seorang kawan mengajak berbincang tentang banyak hal di kantor Lafadl. Perbincangan kami hari itu tentu tidak mendalam, karena sebenarnya kami sedang “pamer” informasi yang kami punya. “Pameran”  ini dimeriahkan dengan berbagi informasi mengenai buku yang menarik yang bisa diunduh secara gratis melalui Gigapedia. Slow Food Movement adalah salah satu tema yang kami bicarakan malam itu.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh gondy

6 Mei 2010 pada 7:17 pm

Pekerjaan yang Pedih

tinggalkan komentar »

Suatu waktu di tahun 1999 saya mendengar semacam pengakuan dari Mas G.M. Sudarta tentang profesi yang dilakoninya sebagai  kartunis.  Menurutnya, bekerja sebagai kartunis adalah pekerjaan yang sedih. Tiap hari dia harus berfikir, menghayati, dan menggambarkan kondisi buruk yang dialami bangsa.  Tentang mereka yang kelaparan, kebanjiran, digusur, terkena wabah penyakit, tertimbun tanah longsor, ditipu politikus, dan seluruh penderitaan lain yang dialami. Sedang di sisi lain ada mereka yang berkuasa, secara politik maupun ekonomi, yang kondisinya nampak kontras dengan yang dialami rakyat.  Hidup penuh kemewahan, menghamburkan uang, pamer kerakusan, masa bodo, mengkhianati mandat, dan sewenang-wenang. Puluhan tahun rutinitas seperti itu telah dijalani beliau dan kadang merenggut daya tahan  fisiknya.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh gondy

31 Maret 2010 pada 1:35 pm

Ditulis dalam coretan

Dikaitkatakan dengan , ,

Slum di Jakarta : Kemunculan dan Penanganannya

dengan 2 komentar

Memasuki kampung Kebun Tebu, Muara Baru, semilir angin laut biasa menyambut dengan membawa bau sampah yang telah membusuk dari pinggir danau Pluit maupun yang menyebar dari bawah rumah-rumah panggung penduduk. Nuansa kehidupan yang informal juga memperlihatkan keceriaannya. Kampung Kebun Tebu terletak di tepi timur danau Pluit, Jakarta Utara, memanjang sejauh 4.500 meter. Permukiman warga Kebun Tebu terbagi dalam lima kelompok wilayah: Blok A-I yang berada dalam wilayah RT 16/17, Blok A-C wilayah RT 17/17, Induk RT 19/17, Induk RT 17, dan Induk RT 20/17. Jumlah penduduk kampung Kebun Tebu sekitar 2.831 keluarga dan paling besar jumlah penduduknya ada di Blok A-I RT 16/17, dengan 1.388 keluarga.[1] Sebagian besar rumah warga berupa rumah panggung, yang dirancang untuk menyiasati ruang karena berdiri di atas danau, juga untuk mengantisipasi banjir karena meluapnya air laut (rob). Rumah-rumah tersebut menjorok ke jalan atau gang sehingga jalan kampung menjadi semakin sempit.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh gondy

25 Februari 2010 pada 12:22 pm

Ditulis dalam coretan

Dikaitkatakan dengan , ,

Suatu Ketika di Stasiun Poncol ( untuk mas K)

tinggalkan komentar »

Mungkin kamu sengaja duduk di dekatku waktu itu. Mungkin kamu terpengaruh pembicaraanku dengan perempuan pemilik warung makan di pojok selatan Stasiun Poncol, Semarang. Kamu menyapa dengan pertanyaan klise, sebuah pertanyaan pembuka bagi percakapan antar penumpang di seluruh Jawa, “Badhe tindak pundi?” Setelah kujawab dan sebagai ungkapan perhatian terhadapmu, pertanyaan tersebut kusampaikan balik padamu. Bentuk wajah dan rambutmu mengingatkanku pada kawan-kawan kuliah dari Maluku Utara dulu. Padahal kamu asli kelahiran dan keturunan orang Semarang yang menghabiskan masa muda di Jakarta. Kereta ke Jakarta masih enam jam lagi. Kamu memilih menunggu di stasiun dan mencoba mengikis waktu panjang itu dengan menumpahkan endapan luka masa lalumu padaku.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh gondy

25 Januari 2010 pada 2:26 pm

Ditulis dalam coretan

Dikaitkatakan dengan ,

Pindahan Lagi

dengan 2 komentar

Apa yang tersisa setelah kita mengangkuti semua barang dan bersiap meninggalkan kontrakan lama menuju tempat baru? Yang pasti ada seorang teman tidak mau repot menjawab pertanyan itu, karena dia tidak pernah repot angkut-angkut barangnya. Kalau pindahan kos, barangnya banyak ditinggal untuk tetangga kos-nya. Biasanya hanya sedikit pakaian, beberapa buku dan barang elektronik saja yang dibawa. Itu berbeda dengan diriku : repot berat! Apalagi ketika musim penghujan seperti sekarang, semua barang yang akan dibawa pindah harus terbungkus rapi agar jangan sampai terkena air. Tidak sekedar dimasukkan dalam dus, tapi ditutup juga dengan kertas koran atau plastik.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh gondy

25 Januari 2010 pada 9:43 am

Ditulis dalam coretan

Dikaitkatakan dengan , ,

Orang pinggiran dan Seorang Sahabat Pembelanya

dengan 2 komentar

Ada kegembiraan tersendiri ketika menempuh perjalanan dari  Tangerang ke Depok dengan bus AgraMas  setiap pagi.  Bus warna merah tersebut  jurusan Tangerang -Cikarang, tidak sampai Depok,  sehingga aku harus  turun di Pasar Rebo dan setelah itu melanjutkan dengan angkot dan kereta.  Aku biasa memilih duduk di deretan sebelah kiri mepet dengan kaca, dengan demikian  bisa jelas melihat pemandangan luar ketika  kordennya disingkapkan. Duduk di sebelah kiri juga memudahkan untuk keluar karena bangku di sebelah kiri hanya  untuk dua orang, sedang yang sebelah kanan untuk tiga orang. Di sebelah kiri artinya juga akan mendapatkan sinar matahari pagi, karena sebagian besar perjalanan bus melaju dari arah utara ke selatan,  sehingga badanku akan sedikit lebih hangat. Apalagi suhu dalam bus biasanya dingin, yang kadang memaksaku menggunakan jaket atau sweater. Jadi dengan duduk di sebelah kiri juga sebentuk siasat untuk  menyongsong sinar matahari . Dari kebiasaan tersebut  aku menjadi sedikit hapal akan keadaaan atau bangunan di kiri jalan, setidaknya dari Metropolis Tangerang sampai masuk gerbang  tol lingkar luar Jakarta.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh gondy

10 Desember 2009 pada 12:00 pm

Ditulis dalam coretan

Dikaitkatakan dengan ,

Di kereta ekonomi Bogor-Jakarta, senja itu

dengan 2 komentar

“Tolong! Tolong saya! Hape saya dicopet!” teriakan seorang remaja perempuan menyeruak dari kegelapan kereta ekonomi (KRL) jurusan Bogor-Jakarta, senja itu. Teriakan itu nampak sia-sia, seperti lengket di keringat orang-orang yang kelelahan karena baru pulang kerja.  Apalagi pencopet telpon genggamnya telah meloncat kabur dari kereta yang tengah melaju, membelah hujan yang mengguyur.  Perempuan itu mencoba ikut loncat tapi dicegah beberapa orang karena kereta sudah melaju, yang justru akan membahayakan perempuan itu. Ada dua-tiga orang di sekitar perempuan itu yang bertanya dan mencoba menghibur. Perempuan malang itu menceritakan proses pencopetan itu sambil sesekali mengusap matanya dengan kerudung warna gelap.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh gondy

2 Desember 2009 pada 2:58 pm

Ditulis dalam coretan

Dikaitkatakan dengan ,

Mengapa Memilih Penggusuran?

tinggalkan komentar »

Warga miskin kota yang tinggal di kawasan di sepanjang rel kereta api (KA) jalur Kota-Tanjung Priok-Pasar Senen, Jakarta, kini tentu merasa was-was karena bakal digusur. Penggusuran tersebut sejalan dengan Instruksi Presiden tentang penataan permukiman kumuh sepanjang jalur kereta api yang disampaikan pada 28 April 2009 lalu. Jika rencana tersebut benar-benar dilakukan, setidaknya sekitar 4000 keluarga akan kehilangan tempat tinggal mereka. Rencana ini memang tidak main-main, setidaknya tiga menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II, yakni Menko Kesejahteraan Rakyat, Menteri Perumahan Rakyat, dan Menteri Perhubungan telah melakukan peninjauan lokasi pada 18 November 2009 lalu. Dalam konferensi pers setelah peninjauan lokasi, ketiga menteri menyatakan bahwa warga yang mempunyai KTP Jakarta akan direlokasi ke rumah susun sewa (rusunawa) dan yang tidak mempunyai KTP Jakarta akan dipulangkan ke daerah asalnya masing-masing dan diberdayakan dengan program PNPM Mandiri. Dengan demikian program penataan ini diharapkan akan mengurangi kemiskinan kota (Republika,19/11/2009). Yang jadi pertanyaaan kemudian, apakah penyelesain yang akan dilakukan pemerintah tersebut sudah tepat dan menjadikan kondisi warga lebih baik?

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh gondy

1 Desember 2009 pada 12:24 pm

Ditulis dalam coretan

Mbah Hasyim Sebagai Community Organizer

dengan 2 komentar

Bagi komunitas muslim Nusantara, khususnya dalam masyarakat Jawa, peran dan posisi seorang kyai amatlah penting. Kyai menjadi tempat bertanya dan minta nasehat untuk semua hal, dari persoalan pekerjaan, jodoh, mengurus anak, sampai menentukan pilihan politik dalam pemilu. Peran yang besar tersebut tidak datang secara tiba-tiba, tetapi melalui proses yang panjang. Beberapa sebab mengapa posisinya demikian sentral adalah tak lepas dari kedalaman ilmu dan kedekatan mereka pada sang Ilahi. Kedalaman ilmu dicapai melalui proses belajar yang panjang, dari pesantren ke pesantren, kyai satu ke kyai lainnya, dan tak jarang melalui pengembaraan ke Mekkah, yang dianggap sebagai pusat pengetahuan Islam. Dengan proses yang panjang tersebut tak heran jika ada seorang kyai menguasai banyak ilmu, misalnya ilmu tafsir, fikih, hadis, teologi, tasawuf, dan sebagainya. Sedangkan kedekatan dengan Ilahi diwujudkan dengan ketekunan mereka dalam beribadah, sikap rendah hati, dan keikhlasan dalam setiap perbuatan. Tak jarang, dengan kelebihan seperti itu, para kyai akhirnya dikenal tidak hanya di kalangan masyarakat muslim Nusantara saja, tapi juga sampai luar luar negeri. Beberapa nama bisa disebutkan di sini, seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Mahfuz at-Tirmizi, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Ahmad Khatib Sambas, Syekh Yasin Padang, Kyai Saleh Darat, KH. Khalil Bangkalan, KH. Ahmad Dahlan, KH. Asnawi Kudus, dan tentu saja Hadrat asy-Syekh Hasyim Asy’ari.

Semua ulama atau kyai yan disebutkan di muka telah menjadi legenda bagi masyarakat muslim Nusantara karena kelebihan yang dimiliknya. Tetapi tulisan kali ini hanya mengupas kelebihan dari beliau yang disebutkan terakhir, yakni Hadrat asy-Syekh Hasyim Asy’ari (Mbah Hasyim). Banyak kelebihan yang dipunyai Mbah Hasyim, dan tentu hal tersebut juga telah banyak dikupas dalam beberapa buku maupun tulisan-tulisan pendek. Beberapa tulisan tersebut menyebut Mbah Hasyim sebagai ahli hadis, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dan juga sebagai gurunya para guru karena banyaknya murid beliau yang akhirnya menjadi ulama-ulama terpandang dan pemimpin pesantren di Nusantara, secara khusus di Jawa. Yang sedikit dikupas, cuma disinggung secara pintas lalu, adalah keahlian beliau dalam mengorganisir komunitas (CO). Padahal kemampuan seorang CO ini mulai nampak dalam kerja-kerja awal beliau, atau setidak ada beberapa prinsip CO yang beliau lakukan secara konsisten.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh gondy

1 Desember 2009 pada 11:56 am

Ditulis dalam coretan

Dikaitkatakan dengan , , ,

Seorang Lelaki di Strenkali

dengan 2 komentar

Hujan berlari cepat ke pinggiran sungai, memiringkan badan ke depan seperti pelari yang hampir mendekati garis finish. Sungai Wonokromo tetap tenang dan tidak gelisah ketika tubuhnya seperti ditotok ribuan tongkat kristal yang dimainkan seorang ahli silat. Tongkat kristal bergerak dan melompat maju-mundur untuk menyerang tubuh yang gemuk dan malas itu. Tumpahan meriah air dari langit bertabrakan dengan suara adzan yang terdengar meliuk dan hilang dengan tergesa-gesa. Bocoran air yang jatuh melewati genting yang melorot membasahi celana Pak Bakir yang berdiri di teras belakang rumah Bu Darmi. Pak Bakir bukan Basudheva yang selalu tersenyum mendengar suara air sungai. Kali ini sinar matanya kian meredup mengikuti redupnya lampu-lampu dari dapur penduduk yang menerobos lewat celah dinding-dinding bambu. Mata dan lehernya sudah capek untuk menengok secara bergantian ke sampan dan ke lorong gang.

Segelas kopi yang jarak antara air dan ampasnya tinggal sekitar satu centimeter, masih sesekali diseruput untuk membasahi lidahnya agar rokrok kreteknya semakin terasa nikmat. Malam itu, Pak Bakir seperti kawat besi tambangan yang menjadi pegangannya ketika mengayuh sampan menyeberang sungai Wonokromo. Kaku dan dingin.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh gondy

10 November 2009 pada 7:31 am

Ditulis dalam coretan

Dikaitkatakan dengan ,

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.