Arsip untuk Januari 2011
Pak Adil dan Segala Keribetan Kami*
Wajahnya sekilas mengingatkan saya pada Mang Udel, pemilik losmen di sinetron Losmen yang terkenal pada era 80-an, yang sangat piawai memainkan ukulele. Kali ini bukan ukulele yang jadi pegangannya setiap hari, tapi setir mobil. Namanya Pak Adil, yang sudah belasan tahun menjadi sopir di sebuah rental mobil. Usianya memang sudah lewat satu abad, tetapi jangan tanya soal gaya menyetirnya: cekatan dan berani ambil risiko. “Kalau butuh apa-apa dan pingin membeli sesuatu, bilang saja ya, nanti saya akan berhenti,” kata Pak Adil sambil meletakkan botol minuman mineral ke ceruk tempat air di depan rem tangan dan kotak snack di atas dashboard . “Nanti kalau ketemu apotik berhenti ya, Pak” Rizka langsung menyambut tawaran Pak Adil.
Pagi tanggal 3 Desember itu Pak Adil yang akan mengantarkan kami, para peserta pelatihan menulis yang diadakan Eka Tjipta Foundation, ke pusat pelatihan di kebun teh Nirmala, dekat Taman Nasional Gunung Halimun. Ada empat mobil yang dipakai untuk mengantar peserta, saya berada di mobil satu bersama lima teman lainnya. Mobil APV warna hitam terisi penuh, dengan Rizka duduk di depan, di samping Pak Adil; Puri dan Husni di belakang; sedang saya, Maliya dan Denok di tengah. Sebelum Rizka mengusulkan pindah tempat duduk, saya juga sudah merasa aneh dengan duduk diapit perempuan, sehingga ketika Rizka menawarkan ganti tempat, saya langsung setuju. Demikianlah, akhirnya saya duduk di depan di samping Pak Adil.
Jalanan masih basah ketika kami meluncur meninggalkan BII Tower di jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat menuju Bogor. Lagu-lagu yang keluar dari radio-tape merk JVC terdengar stabil mengiringi kami, walaupun kebanyakan tidak pernah saya tahu siapa yang menyanyikannya. Ketika perjalanan memasuki jalan tol dekat Sentul, suara dari radio-tape menjadi tidak jelas, timbul-tenggelam dan suara gemerisik lebih dominan daripada nyanyian.
Denok mulai bereaksi, “Mas, mbok dibenerin radionya, cari lagu yang bagus”. Saya mulai memencet-mencet tombol radio dan perpindahan frekuensi yang telah disetel secara otomatis. Tetap tidak ada radio yang jelas .
“Memang kalau sudah sampai sini tidak ada radio yang bagus suaranya. Ganti tape saja ya,” Pak Adil ikut nimbrung.
“Iya, Pak”.
Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut saya karena memang tidak punya ide lain untuk mengatasi masalah radio itu.
Ternyata yang ada hanya kaset dangdut lama, saya juga tidak tahu siapa yang menyanyikannya. Suara yang keluar nampak berat sehingga Pak Adil perlu memutar volume ke level 15, dari level 10. Maliya yang duduk di sebelah Denok tidak peduli dengan kesibukan kami, dia telah damai dengan perangkat MP3 dan earphone warna biru langit miliknya. Ternyata dia sudah asyik menikmati musik dari tadi, sendiri tentu saja.
Pak Adil membelokkan mobil ke pom bensin dan mempersilakan kami untuk buang air atau membeli sesuatu. Rizka, Malia, Denok, dan Husni turun, sedangkan saya dan Puri tetap di mobil. Tak berapa lama teman-teman sudah balik ke mobil lagi. Denok dengan heboh menceritakan tulisan di dinding toilet yang menurutnya lucu. “Masak ada tulisan ‘yang coret-coret di sini tidak berpendidikan’, terus di bawahnya ada tulisan lagi ’berarti kamu tidak berpendidikan’, lantas di bawahnya ada lagi tulisan ‘sesama tidak berpendidikan dilarang ribut’…hahaha” cerita Denok. Rizka ikutan tertawa, tapi Maliya tidak, karena sibuk dengan perangkat MP3-nya.
Setelah beberapa saat melanjutkan perjalanan, kami tiba di Saung Kuring, tempat yang disepakati untuk makan siang. Belum sampai jam sebelas siang, dan saya merasa belum terlalu lapar benar. Tetapi ternyata menunggu makanan siap juga tidak sebentar, sehingga jam dua belas kami baru makan. Sekitar dua jam kami di Saung Kuring, kemudian berangkat lagi tanpa Puri karena dia pindah ke mobil Dua. Sebelumnya Mas Andreas menawarkan kalau ada yang mau pindah mobil agar mobil kami tidak terlalu penuh. Dan Puri menyambutnya. Kemudian Denok pindah ke kursi belakang, menemani Husni. Karena sudah siang, udara juga semakin gerah, sehingga Rizka dan Husni meminta AC ditambah levelnya agar lebih dingin. Sebenarnya bukan karena levelnya yang rendah, tetapi karena saluran pendingin hanya ada di depan sehingga udara dingin tidak sampai ke teman-teman yang duduk di tengah dan di belakang. Ini yang bikin repot. Yang tengah dan belakang kegerahan sedangkan kami yang di depan kedinginan. Pada akhirnya Pak Adil memakai jaket.
Selama perjalanan, terhitung tidak hanya satu atau dua kali kami berhenti untuk buang air atau membeli obat, baterai dan segala kebutuhan kami. Kami berhenti empat kali! Ini salah satu sebab mengapa kami tertinggal dari rombongan peserta lainnya. Pak Adil sudah banyak diamnya, dibanding waktu awal berangkat. Saya berharap Pak Adil tidak menyesal ketika sebelumnya mengatakan, “Kalau butuh apa-apa dan pingin membeli sesuatu, bilang saja ya, nanti saya akan berhenti”.
*tulisan ini merupakan hasil tugas menulis deskripsi, pelatihan narasi ETF di villa Nirmala, 3-8 Desember 2010
Seorang Romo dari “Sicilia”
Dia selalu mengidentifikasikan diri sebagai orang cerdas dan penuh muslihat. Setelah berhasil mengelabui teman-temannya, dengan bangga dan jumawa mengatakan, “ Lha agen Mossad kok diremehkan.” Kalau tidak agen Mossad, ya sebagai mafia Sicilia atau IRA dia menyebut dirinya berasal.
Saya percaya teman saya ini penuh muslihat tapi, kalau soal cerdas,nanti dulu.
*
Saya mengenalnya ketika kami satu kelas di kelas dua SMP, tahun 1986. Dia salah satu dari berjibunnya murid tunggakan di kelas kami. Saya tidak tahu, dan sebagian besar murid juga , kenapa banyak sekali anak tunggakan di kelas kami. Terhitung ada lima orang! Di kelas sebelah juga ada murid tunggakan, tetapi paling banyak dua orang. Apakah guru-guru tidak berhitung terhadap dampaknya terhadap murid-murid yang lain? Ternyata, dampak itu memang menimpa saya. Mulai di kelas dua ini, tentu saja atas ajakan beberapa murid tunggakan, saya mulai membolos sekolah. Tidak jelas sebenarnya yang kami lakukan waktu membolos itu. Kadang cuma tidur di kos saya, atau di kos teman yang lain. Si agen Mossad termasuk salah satu murid yang gemar membolos. Maka tak heran jika salah satu guru kami menyebutnya “Sang Juara Lompat Tinggi.” Sebagai olok-olokan saja, karena kebiasaan teman saya ini yang membolos dengan melompat tembok sekolah kami. Kebiasaan ini juga yang menjadi salah satu sebab dia tidak naik kelas.
Ternyata kebiasaan membolos itu masih berlanjut sampai SMA, walaupun kami berbeda sekolah. Suatu ketika si “agen Mossad” ini mengajak bolos sekolah “hanya” untuk mengirimkan (tepatnya menaruh) kartu ucapan hari Valentine ke tiga orang teman perempuan dalam sehari. Ini jelas maksudnya apa. Orang di kampung saya biasa menyebut tindakan ini seperti orang mbranjang manuk, atau menjala burung. Memasang jala di tempat biasa burung mencari makan atau minum, seperti pinggiran sungai. Dengan memasang jala ini diharapkan setidaknya ada satu atau dua burung yang nyangkut. Dan ternyata, tindakan mbranjang tersebut berhasil. Tapi si agen Mossad tidak menindaklanjutinya, dengan alasan yang tidak jelas.
Bagaimanapun, saya patut berterima kasih terhadap teman saya satu ini. Dia salah satu teman yang memperkenalkan saya terhadap dunia. Pemahaman tentang budaya dan praktik berteman, bertambah karena dia. Soal musik misalnya. Awalnya saya tidak paham coretan-coretan pilox yang ada di dinding luar rumahnya. Ada tulisan “ Pink Floyd” dan “The Wall” dengan pilox warna hitam dan putih. Juga beberapa koleksi album Pink Floyd di dalam kamarnya. Saya tidak pernah tertarik menyetelnya. Saya dan juga teman lain lebih sering menyetel First Love-nya Nikka Costa atau Can’t Fight This Feelling milik Reo Speedwagon, kalau main ke rumahnya. Tapi saya penasaran juga akhirnya, karena setiap masuk ke kamarnya, kok yang paling sering dia putar musik Pink Floyd. Saya mulai mencoba ikutan mendengarkan, tapi masih terasa aneh kala itu. Kira-kira sepuluh tahun kemudian, saya baru bisa menikmati musik Pink Floyd itu dan tidak bisa lepas sampai sekarang.
Saya bukan musikolog, juga tidak bisa memainkan satu pun alat musik. Selama ini saya hanya sebagai penikmat, walaupun tetap punya pilihan musik mana yang layak dinikmati. Kesukaan saya pada musik Pink Floyd juga karena itu, nikmat di kuping. Setelah bisa menikmati musiknya, kemudian mulai mengumpulkan album-albumnya dengan memburu di loakan-loakan kaset, khususnya di Jatinegara dan pasar Johar. Ini yang menjadikan hari Sabtu atau Minggu saya dulu menjadi lumayan indah. Dari semua album Pink Floyd, hanya tiga yang sering kuputar : The Wall, Wish You were Here dan The Dark Side of The Moon. Sayangnya, tidak seperti kaset pita, rekaman konser entah dalam CD atau DVD susah ditemukan.
Setahu saya, Mas Budiarto Shambazy, wartawan senior Kompas, juga menyukai Pink Floyd. Ini terlihat dari beberapa kali dia menulis esai atau liputan tentang Pink Floyd. Yang masih saya ingat adalah tulisannya pada 16 Agustus 2003 yang berjudul “ Kala Separuh Bulan Tiba-tiba Menjadi Gelap….” Di situ disebutkan bahwa pada tahun 1990 di Australia, pendengar radio melalui jajak pendapat memilih The Dark Side of The Moon sebagai album terbaik untuk didengar sambil bercinta. Mas Budiarto tidak menyatakan pendapat apakah dia sepakat dengan jajak pendapat itu dalam tulisannya. Saya pun tidak punya pendapat, karena belum mencobanya. Saya yakin teman saya yang satu ini juga tidak bisa memberikan pendapatnya, walaupun dia penggemar tulen Pink Floyd. Bukan karena dia telah direkrut oleh Mossad atau mafia Sicilia, tetapi karena dia kini telah menjadi “agen” Serikat Jesus, yang salah satu syaratnya adalah komitmen terhadap kaul kesucian. Bukankah begitu, Romo?

