coretan kebun belakang

kota, buku, "mimpi"

Permainan Mak Sup

dengan 2 komentar

Mas Karto tahu, kalau memboncengkanku dari stasiun Kota ke Tembok Bolong, Muara Baru, pasti ia mengayuh sepeda ojeknya dengan santai, apalagi ketika melewati kawasan Kota Tua. Mas Karto juga tahu betapa sia-sianya mengajakku bicara pada saat seperti itu. Dia baru ngajak ngobrol ketika sudah melewati Kota Tua.

Bagiku, menikmati suasana Kota Tua di atas sepeda seperti memutar waktu ke masa silam, ketika semua hal masih berjalan dengan lambat. Waktu yang diputar ke masa silam kemudian menghadirkan pejuang-pejuang jaman pergerakan yang berjalan menyusuri lorong-lorong gedung-gedung tua itu, bukan bayangan para kumpeni. Bayangan terhadap kota tua di mana-mana selalu sama, seperti juga ketika melintasi Kota Tua di Semarang. Ketika berjalan menyusurinya, seolah aku menjejaki kembali tapak langkah Semaoen yang hilir mudik mengorganisasikan serikat buruh

Walaupun polusi udara tidak bisa menipu, tapi angin sore yang menerpa wajahku dari segala penjuru, segera meruntuhkan kepenatan dan rasa lelah. Belum cukup sampai di situ, rasa lelah yang runtuh itu kemudian remuk dilindas roda sepeda Mas Karto. Suasana dan imajinasi seperti itu membuatku tak bosan-bosan melewati kota tua dimanapun tempatnya.

Sore ini  tidak seperti hari-hari sebelumnya. Suasana Kota Tua itu kalah menarik dari bayangan lain. Di kepalaku hanya ada senyum lebar seorang perempuan setengah tua, seorang organiser perempuan miskin kota. Apalagi aku membawa oleh-oleh hasil dari lokakarya penggunaan permainan untuk penguatan kelompok, yang dilaksanakan di Bandung. Ya, inilah oleh-oleh yang ia inginkan. Kuingat terus pesannya sebelum berangkat, “Bawa oleh-oleh permainan yang banyak ya, biar Emak nanti bisa belajar,” katanya kala itu. Bagi organiser komunitas, permainan untuk penguatan kelompok itu ibarat senjata bagi prajurit, metafora bagi seorang penyair. Semakin banyak permainan yang dikuasai, semakin dia percaya diri.

Untungnya lokakarya di Bandung tersebut memberi banyak permainan, jadi harapan Mak Sup tidak sia-sia. Selain dari fasilitator, permainan baru juga diberikan oleh peserta lain. Memang jauh-jauh hari pantia sudah meminta calon peserta untuk menyiapkan tiga permainan yang dikuasai yang nanti akan diperagakan dan dibagikan kepada peserta lain. Bisa dibayangkan banyaknya jika dari dua puluh peserta setiap orang membawa tiga permainan. Dengan antusias kuamati dan kuingat semua permainan baru, yang belum kukuasai. Bahkan beberapa permainan ada yang kucatat, mulai dari proses sampai peralatan yang digunakan.

“Ah, banjir lagi!”

“Sudah seminggu ini mbak, apalagi tanggulnya jebol,” Mas Karto menjelaskan.

Mas Karto turun dari sepeda, kemudian menuntunnya serta memintaku untuk tidak usah ikut turun. Banjir di Muara Baru seringkali bukan disebabkan oleh derasnya hujan, tapi karena rob air laut. Ini seperti kutukan yang muncul dari tahun ke tahun tanpa ada penanganan. Apalagi sekarang diikuti tanggul jebol, pasti air meluncur bebas dari laut ke permukiman penduduk sampai ke jalan raya Muara Baru. Mobil-mobil pribadi, angkutan umum dan truk-truk seperti direndam dalam baskom bersama sampah-sampah. Tukang becak, penarik gerobak, tukang ojek sepeda dan anak-anak berpesta. Inilah saat mereka memperoleh kemenangan kecil dari pertarungan rutin yang tidak seimbang yang mereka jalani dari hari ke hari.  Mas Karto mlipir mencari celah ruang di antara kendaraan yang macet. Mas Karto sudah lihai memilih jalan sekaligus menyerobot ruas jalan dengan berbekal tangan kiri diangkat dan telapaknya menganga sebagai tanda sebuah permisi juga permintaan maaf.

***

Mas Karto sudah empat tahun menjadi tukang ojek sepeda. Awal kedatangannya di Jakarta, dia menjadi tukang becak yang mangkalnya di dekat pertokoan Roxy. Tapi karena ada penggarukan becak besar-besaran yang berakhir dengan bentrok antara tukang becak dengan aparat Trantib, dia pindah ke perempatan Muara Baru. Tapi lagi-lagi dia kena garuk menjelang tengah malam ketika mengantar penumpang ke jalan raya Hayam Wuruk. Kawan-kawannya di Serikat Becak Jakarta sebenarnya sudah mewanti-wanti untuk tidak terlalu sembrono membawa penumpang ke jalan raya di daerah kota. Malam itu Mas Karto benar-benar apes. Selain becaknya kena garuk, rumah bedeng tempat tinggal bagi dirinya beserta isteri dan dua anaknya yang berdiri di bantaran danau Pluit malam itu juga habis terbakar bersama ratusan rumah lainnya.

Beberapa warga mengatakan permukiman itu sengaja dibakar, karena sebelum terbakar ada orang yang tidak dikenal masuk ke lorong-lorong rumah warga, tapi itu susah dibuktikan. Beruntung Mas Karto ikut organisasi, karena setelah musibah itu kawan-kawan dan juga pelbagai pihak membantunya membangun kembali rumahnya dan meminjami uang untuk membeli becak. Karena uangnya tidak cukup membeli becak, Mas Karto memilih membeli sepeda. Sejak itu Mas Karto beralih menjadi tukang ojek sepeda yang mangkalnya di stasiun Kota. Dan sejak itu pula Mas Karto menjadi langgananku, setia mengantar dari stasiun Kota ke kampung-kampung di kawasan Muara Baru.

***

Dengan cekatan Mas Karto membelokkan sepedanya ke gang yang diapit rumah-rumah yang atapnya menjorok ke jalan setapak. Rumah-rumah berdempetan seperti tanpa celah satu senti pun. Dinding-dindingnya dari triplek dan seng. Atap-atap rumah juga dari seng yang dibebani dengan bata atau batu dan kadang-kadang sepeda anak-anak yang telah rusak pun dipakai agar angin yang datang tidak membawa kabur atap-atap seng itu. Kerumunan orang seolah tidak pernah habis di sepanjang gang itu. Apalagi ketika air rob masuk ke rumah-rumah seperti sekarang, mereka lebih memilih duduk di beranda depan rumah.

“ Mbak Epi, mampir!” Mbak Sayem berteriak dari dalam rumahnya. Aku tidak keberatan orang-orang kampung memanggil Epi, tapi hanya heran kenapa ibu-ibu kampung itu susah sekali mengucapkan huruf V, sehingga nama Evi pun dipanggil Epi.

“Eh, Mbak Sayem. Apa kabar?” Aku meminta Mas Karto berhenti sebentar agar aku bisa berbincang dengan Mbak Sayem.

“Mbak Epi tahu sendiri, tuh rumah tergenang. Sudah seminggu ini, Mbak. Apalagi Santi kena diare lagi, jadi tambah pusing deh saya” keluh Mbak Sayem. Santi adalah anaknya satu-satunya yang kini berumur sekitar tiga tahun, buah perkawinannya dengan Mas Cahyo.

“Hmm, sudah diperiksakan ke dokter?”

“ Sudah ke Puskesmas kemarin, tapi sampai sekarang badannya masih panas.”

Tidak lama aku berbincang dengan Mbak Sayem. Aku hanya berjanji untuk menyampaikan apa yang menimpa Mbak Sayem, terutama sakitnya Santi, kepada kelompok-kelompok tabungan lain, agar mereka mengetahui dan setelah itu akan melakukan sesuatu sebagai bentuk solidaritas, seperti biasanya.

Sapaan yang muncul dari permukiman miskin, seperti yang dilakukan Mbak Sayem itu selalu membahagiakanku. Apalagi kalau aku bisa berbincang dan sedikit bisa menyemangatinya. Suatu waktu aku pernah menceritakan hal ini pada Dony, kekasihku, tapi  Dony menanggapinya biasa saja.

Telah tujuh tahun berpacaran dengan Dony, tapi aku merasa semakin hari kami semakin asing satu sama lain. Kurasa Dony telah berubah akhir-akhir ini. Cita-cita dan semangat mengubah keadaan masyarakat yang ada pada dirinya dulu, sepertinya kini sudah menguap. Kami semakin sering berdebat. Awalnya soal pilihan pekerjaan, tapi akhirnya hal-hal sepele bisa jadi bahan pertengkaran. Padahal orang tua kami baru saja bertemu dan meminta kami untuk segera menikah, terutama ibuku. Jikalau Dony tidak berubah seperti sekarang ini, tentu aku dengan senang hati menyambut permintaan orang tua tersebut. Kini, aku menjadi ragu terhadap hubungan ini.

“Mbak, sudah sampai. Mbak…mbak,” teguran Mas Karto membuyarkan lamunanku.

“ Eeh, sori Mas, ngelamun tadi…hehe?”

“ Mau ditunggu nggak, mbak?”

“ Gak usah, mungkin agak lama ini”

“ Baik, Mbak.” Mas Karto kembali mengayuh sepedanya menuju stasiun Kota setelah kubayar jasanya.

Rumah Mak Sup terlihat sepi dari biasanya. Setelah kuucapkan salam dan tidak ada jawaban, aku langsung masuk saja. Ruangan depan nampak gelap karena semua jendela ditutup, dan pintu depan hanya dibuka setengah. Terdengar isak tangis dari bale-bale yang ada di ruang depan, tempat biasa Mak Sup tidur.

“Mak…mak,” aku mencoba memanggil Mak Sup sambil melangkah mendekati arah tangisan. Suara tangisan berhenti. Mak Sup membalikkan badan kemudian beranjak duduk dan memandang wajahku.

“ Epi?”

“Iya, Mak,” jawabku pendek.

Aku duduk di sebelah Mak Sup kemudian memeluknya erat. Mak Sup kembali terisak.

“Ada apa, Mak?” tanyaku

“ Gendhuk, Pi.”

“Ada apa dengan Gendhuk?”

Mak Sup kemudian cerita bahwa Gendhuk, anak perempuan satu-satunya, mendapat masalah di Arab. Baru saja teman Gendhuk  di Arab memberi kabar kalau Gendhuk beberapa waktu ini sering dianiaya majikannya, hanya karena ia meminta upah yang belum dibayar. Kembali air mata Mak Sup jatuh.

“Oke, Mak. Besok kita laporkan ke lembaga yang ngurusin soal ini. Yang penting emak siapin berkas-berkas berkaitan dengan keberangkatan Gendhuk ya,” kataku menenangkan.

Iya, Pi. Terima kasih.”

“Ngomong-ngomong, kamu bawa oleh-oleh permainan itu?” lanjut Mak Sup.

“Tentu, Mak,” jawabku.

Lalu kuceritakan soal permainan-permainan yang kudapatkan, tapi tidak semuanya. Hanya yang menurutku menarik dan pas kalau digunakan di kelompok-kelompok tabungan perempuan miskin kota. Mak Sup mendengar dengan penuh antusias, sesekali mengajukan pertanyaan.

“ Kalau permainan yang membuat orang tertawa dan bergembira terus ada gak, Pi?”

“Haha, ya gak ada kalau tertawa terus-terusan, Mak. Tapi ada permainan yang ketika dilakukan, peserta menjadi tertawa dan bahagia,” jelasku.

“Permaianan apa, itu?” tanya Mak Sup.

“ Lingkaran Tertawa namanya,” jawabku.

“Oke, ajari aku ya, Pi. Nanti kalau sudah bisa, akan kupraktekkan setiap hari bersama teman-teman agar mereka tertawa dan bahagia setiap hari,” ujar Mak Sup.

“Kamu mau ikut permainan itu setiap hari, Pi?” pertanyaan Mak Sup mengagetkanku.

“Ah, enggak tahu, Mak,” jawabku pendek.

“ Kalau kamu lagi sedih, ikut saja,” ujar Mak Sup

“Ah, aku gak lagi sedih kok, Mak”

Mata Mak Sup menatapku, dan kuberanikan juga menatapnya. Aku seperti berkaca melalui bola matanya. Wajahku nampak kusut, ada mata panda di wajahku. Bulatan hitam itu semakin hitam dan melebar. Warna rambutku juga mulai mengikuti warna rambut Mak Sup. Sementara wajah Dony berkelebat di belakang rambut Mak Sup, sambil tersenyum.

Ditulis oleh gondy

30 Desember 2011 pada 7:41 pm

Ditulis dalam coretan

Dikaitkatakan dengan ,

Franky di Halaman Rakyat, di Perkampungan Bunga

tinggalkan komentar »

Beberapa tahun lalu, saya termasuk orang yang menyayangkan perubahan yang terjadi dalam  diri Franky Sahilatua. Hati saya seperti mengatakan,”Mengapa orang yang dikarunia talenta besar dalam bermusik sekarang malah sibuk dalam hiruk pikuk perpolitikan negeri ini”. Saya takut dia akan bernasib seperti idola saya yang lain, Rhoma Irama. Rhoma yang cemerlang sebagai penyanyi dan pencipta lagu dangdut mulai kehilangan pamornya ketika masuk Partai Persatuan Pembangunan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti tidak punya arti lagi, apalagi menghibur.  Saya takut tidak akan ada lagi lagu seperti “ Kepada Angin dan Burung-burung” atau “Musim Bunga” yang mengalun manis dari dirinya dan Jane. Ketakutan itu mungkin bagai sebuah aquarium, dimana orang yang saya kagumi harus tetap dalam posisi ideal atau minimal tidak keluar dari kerangka yang saya bayangkan. Kalau perlu, tidak usah melakukan apapun agar yang baik yang pernah dia perbuat tetap tidak terusik oleh kekurangan. Ketakutan saya terhadap Franky  berakhir dengan pemakluman. Apalagi, seperti dikatakan Franky  sendiri dalam sebuah perbicangan bersama kawan-kawan UPC di warung komplek TIM tahun 2004 lalu, bahwa dia tidak bisa berkonsentrasi dalam dua hal yang berbeda. Harus total dalam satu bidang saja. Kalau mau bermusik ya harus meninggalkan politik, dan kalau berpolitik ya  meninggalkan musik, katanya. “ Saya tidak bisa menulis lagu kalau sedang dalam aktifitas gerakan,” katanya dulu. Dan dia memang telah memilih terlibat dalam gerakan sosial. Berpolitik walaupun tidak masuk partai politik. Franky tidak salah. Mungkin memang harus seperti itu.  Seperti juga Rendra yang tidak hanya berubah tapi bahkan mengritik para penyair salon yang hanya bersajak tentang anggur dan rembulan. Seniman memang tidak boleh lepas dari realitas sosial, mungkin begitu pilihan Franky.  Dan Franky tak hanya tidak terlepas dari realitas sosial dalam lirik lagunya saja, tapi akhirnya merembet ke gerak hidupnya. Demikianlah, setelah berkawan dengan para politisi Franky juga berkawan dengan aktifis gerakan sosial dan pro demokrasi, bahkan terlibat serius di dalamnya. Waktu ketemu di TIM dulu dia juga menjadi bagian dari Pergerakan Indonesia (PI), dan entah mulai kapan pada akhirnya dia menjadi bagian dari ormas Nasional Demokrat (NASDEM). Perubahan yang terjadi pada Franky di satu sisi menggembirakan bagi kelompok pro demokrasi atau gerakan sosial karena Franky termasuk seniman yang ringan tangan kalau dimintai tolong. Misalnya pada tahun 2002-2003 UPC meminta tolong dia untuk mendatangi, memberi semangat dan membagi ilmu soal musik ke kelompok-kelompok penyanyi jalanan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Franky dengan senang hati bersedia, tanpa bicara berapa honor yang musti dibayarkan untuk itu. Tentu saja kelompok-kelompok penyanyi jalanan yang didatangi sangat senang dan antusias dengan kedatangannya. Tahun-tahun berikutnya sepertinya Franky tak pernah absen dalam kegiatan kelompok-kelompok pro-demokrasi dan gerakan sosial seperti petani, buruh migran, dan lain sebagainya. Di sisi lain, sepertinya benar kata Franky tentang dirinya sendiri yang kesulitan bergerak dalam dua aktivitas yang membutuhkan totalitas, musik dan gerak politik. Walaupun akhirnya ada juga lagu yang tercipta untuk tujuan gerakan, tapi  menurut saya tetap saja tidak seindah dulu ketika dia belum bersentuhan dengan dunia gerakan. Bagaimanapun Franky kini telah merampungkan tugasnya. Dia kini tinggal memanen benih bunga yang dia sebar di halaman rakyat, di perkampungan bunga.

Ditulis oleh gondy

22 April 2011 pada 6:45 am

Ditulis dalam coretan

Dikaitkatakan dengan , , ,

Kekerasan dan Budaya Kehormatan Diri

tinggalkan komentar »

Akhir tahun lalu dalam sebuah diskusi di sebuah sessi pelatihan menulis etnografi di Makassar yang diadakan Yayasan Desantara dan LAPAR Makassar, Pak Bambang dari jurusan Sejarah UNHAS menyinggung tentang pemahaman yang keliru sebagian orang terhadap Siri’. Akibat dari pemahaman yang keliru atau hanya sebatas permukaan tersebut adalah munculnya kekerasan di masyarakat. Saya tidak tahu apakah seringnya mahasiswa di Makassar yang melakukan tawuran juga karena hal tersebut. Kalau menurut dugaan Widyastuti, psikolog dari Universitas Negeri Makassar, memang hal tersebut dipicu oleh penempatan makna yang keliru dari Siri’.[1] Bisa jadi begitu, misalnya dengan melihat sebab-sebab dari  beberapa tawuran yang dimuat di media massa; ada kaitan dengan balas dendam karena kampus atau fakultasnya dirusak, saling ejek, terganggu dengan teriakan/orasi demonstrasi, arogansi dalam pelaksaan Opspek, terganggu suara motor, dan lain sebagainya.[2]

Prof. Matullada juga pernah menyampaikan kalau Siri’ dalam makna harga diri dan keteguhan hati yang positif telah mengalami “degradasi” baik struktural maupun fungsional. Siri’ sebenarnya konsep atau bisa dikatakan pandangan hidup masyarakat Sulawesi Selatan (Bugis, Makassar, Mandar, dan Toraja) yang mendorong masyarakat untuk kerja keras, berprestasi, berjiwa pelopor dan berorientasi keberhasilan seperti yang pernah disampaikan Prof. Abu Hamid. Yang jelas dari beberapa pendapat orang yang pernah meneliti soal ini ada beberapa kata kunci untuk memahami apa itu Siri’.[3] Setidaknya malu, kehormatan, harga diri menjadi bagian dari kata kunci tersebut.

Bisa saja pandangan terhadap Siri’ yang terdegradasi ini mirip dengan “budaya kehormatan diri” yang hidup di wilayah Selatan Amerika Serikat dimana kekerasan kerap terjadi. Tetapi, sekali lagi, kita membutuhkan penelitian yang mendalam untuk bisa mengambil kesimpulan yang jernih. Walaupun begitu kita bisa belajar apa yang terjadi di Southern United States tersebut, terutama tentang kaitan antara pewarisan kekerasan, budaya kehormatan diri dan lemahnya otoritas negara.

*

Wilayah Selatan Amerika Serikat terkenal mempunyai tingkat kejahatan dengan kekerasan, khususnya pembunuhan, yang tinggi. Pada tahun 2003 misalnya, tingkat kejahatan dengan kekerasan mencapai 549,3 per 100.000 penduduk dan menyumbang sekitar 46,1 % dari kejahatan dengan kekerasan yang terjadi di seluruh Amerika Serikat. Bahkan fakta dari tahun 1976 sampai 2003 yang diungkapkan oleh Uniform Crime Reporting Program’s Supplementary Homicide Reports menyebutkan Wilayah Selatan secara rutin mempunyai rata-rata tingkat pembunuhan 1,2 sampai 1,5 kali lebih tinggi dari rata-rata jumlah penduduk.[4]

Beragam analisis muncul atas kekerasan yang tinggi di wilayah Selatan Amerika Serikat tersebut. Ada yang menyebut bahwa faktor-faktor struktural yang menjadi biang dari masalah kekerasan tersebut, seperti tingginya tingkat kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan pendidikan, dan sebagainya. Ada juga yang menyebut ketegangan sosial sebagai pemicunya. Ketegangan sosial terjadi karena Kulit Putih yang miskin merasa disisihkan oleh Kulit Putih kaya atau kesuksesannya tidak dianggap. Selain itu juga karena Kulit Hitam yang tidak diakui hak-haknya, sehingga mereka menjadi frustrasi yang keluarannya adalah tindak kekerasan. Di sisi lain, ada yang menyebut faktor kultural berperan dalam tingginya kekerasan di wilayah Selatan tersebut.

Sejarah  membuktikan bahwa sejak awal ditempatinya daerah Selatan Amerika Serikat ini, kekerasan dengan pembunuhan sudah menjadi hal yang lumrah. Di luar Indian, pemukim pertama di daerah tersebut adalah para narapidana dari kepulauan Inggris, kemudian sebagian besar imigran Skotlandia-Irlandia, serta Inggris bagian tenggara. Imigran ini menemui lahan-lahan kosong tanpa pemilik, tidak ada infrastruktur, lepas dari jangkauan mekanisme negara yang bisa melindungi rumah dan harta miliknya.

Dalam Outliers, tepatnya di bab 6, Malcolm Gladwell memaparkan persoalan budaya kekerasan selain terkait dengan kondisi lahan, juga dipengaruhi oleh latar belakang para penghuninya.  Menurutnya ini bukan persoalan Utara atau di Selatan Amerika, tetapi budaya ini cenderung muncul di daerah pegunungan atau yang tanahnya tandus. Pegunungan Appalachia di Amerika, Sicilia di Itali dan Basque di Spanyol adalah beberapa contoh daerah dimana budaya tersebut muncul dan berkembang. Di pegunungan atau wilayah yang tandus, bertani jelas menjadi perkara yang sulit sehingga kehidupan menjadi penggembala ternak menjadi pilihan utama.

Berbeda dengan petani yang tidak terlalu kuatir dengan pencurian tanaman di ladangnya,  penggembala ternak sebaliknya. Mereka rentang kehilangan terhadap seluruh basis sumberdaya yang dimilikinya karena pencurian. Apalagi  negara atau otoritas formal lemah atau bisa dikatakan selalu absen sehingga tidak bisa mencegah atau menghukum pencurian. Hal ini membuat mereka dipaksa menjadi pelindung diri mereka sendiri. Mereka harus agresif, bersikap tegas melalui kata-kata dan tindakannya. Untuk melindungi dari ancaman pencuri mereka juga “dipaksa” mengadaptasi budaya “pencitraan” dengan mengampanyekan diri sebagai orang yang tangguh yang tidak bisa disepelekan.

Mereka juga harus siap berkelahi untuk menanggapi tantangan terhadap reputasinya.  Inilah yang kemudian berkembang menjadi “budaya kehormatan diri” ( culture of honor), di mana setiap penghinaan atau ancaman terhadap keluarga, kekayaan, atau orang akan direspon dengan cepat dan keras. Akhirnya sistem yang berkembang dalam lingkungan seperti itu adalah sistem yang didefinisikan sebagai “the rule of retaliation”. Hukum balas dendam!

Dalam budaya kehormatan diri ini pembunuhan menjadi jamak. Alasannya bukan persoalan ekonomi tapi masalah pribadi. Gladwell memberikan sebuah contoh dari pengalaman wartawan Hodding Carter yang waktu mudanya pernah menjadi salah seorang juri pengadilan di sebuah kasus pembunuhan. Terdakwanya seorang pria yang terkenal gampang naik darah yang sering menjadi ejekan orang. Suatu hari dia menembak salah seorang yang mengejeknya dan melukai yang lainnya. Yang luar biasa, hanya Carter yang menyatakan orang itu bersalah, juri lainnya memaklumi perbuatan tersebut dengan alasan demi kehormatan diri!  Tak heran jika sejak tahun 1860-an sampai awal abad 20,  di kota Dataran Cumberland yang penduduknya tak pernah lebih dari lima belas ribu orang, telah ditemukan adanya seribu pembunuhan.

Yang menarik soal budaya kehormatan diri bukan hanya kekerasan yang ditimbulkannya, tapi pewarisannya. Kekerasan yang terjadi di sekitar pegunungan Appalachia, menurut Gladwell lagi, bisa dirunut mulai dari abad 18, bahkan sebelumnya ketika imigran masih berada di tempat asalnya.  Budaya kehormatan diri tersebut diwariskan dari generasi ke generasi, dari keluarga ke keluarga dan dari tempat satu ke tempat lainnya. Saya tidak tahu apakah ini soal yang aneh, hebat, atau mengerikan. Mungkin, bisa saja, ketiga-tiganya sekaligus.

 

( dimuat di http://desantara.org pada 16-02-2011)

 

 

 

 


[1] http://makassarterkini.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1312:tawuran-dipicu-bergesernya-makna-siri-makassar-sindo–bergesernya-makna-budaya-siri-atau-harga-diri-bagi-sebagian-kalangan-mahasiswa-diduga-kuat-sebagai-penyebab-maraknya-aksi-tawuran-yang-akhir-akhir-ini-kembali-kerap-meledak-di-kota-makassar-psiko&catid=44:info-terkini&Itemid=139

[3] Pendapat Prof. Abu Hamid dan beberapa tokoh Sulawesi Selatan soal Siri’ bisa dibaca di; Moh. Yahya Mustafa. dkk,  Siri’ dan Pesse’, Harga Diri Orang  Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, Pustaka Refleksi, Makassar, 2003.

[4] Data tentang kejahatan dengan kekerasan ini serta sebagian sejarah wilayah Selatan Amerika Serikat saya ambil dari disertasi Hayes yang bisa diunduh di http://etd.lsu.edu/docs/available/etd-07022006-123237/unrestricted/Hayes_dis.pdf

Ditulis oleh gondy

9 Maret 2011 pada 5:10 am

Ditulis dalam coretan

Dikaitkatakan dengan , , ,

Pak Adil dan Segala Keribetan Kami*

dengan 2 komentar

Wajahnya sekilas mengingatkan saya pada Mang Udel, pemilik losmen di sinetron Losmen yang terkenal pada era 80-an, yang sangat piawai memainkan ukulele. Kali ini bukan ukulele yang jadi pegangannya setiap hari, tapi setir mobil. Namanya Pak Adil, yang sudah belasan tahun menjadi sopir di sebuah rental mobil. Usianya memang sudah lewat satu abad, tetapi jangan tanya soal gaya menyetirnya: cekatan dan berani ambil risiko. “Kalau butuh apa-apa dan pingin membeli sesuatu, bilang saja ya, nanti saya akan berhenti,” kata Pak Adil  sambil meletakkan botol minuman mineral ke ceruk tempat air di depan rem tangan dan kotak snack di atas dashboard .  “Nanti kalau ketemu apotik berhenti ya, Pak” Rizka langsung menyambut tawaran Pak Adil.

Pagi tanggal 3 Desember itu Pak Adil  yang akan mengantarkan kami, para peserta pelatihan menulis yang diadakan Eka Tjipta Foundation, ke pusat pelatihan di kebun teh Nirmala, dekat Taman Nasional Gunung Halimun. Ada empat mobil yang dipakai untuk mengantar peserta, saya berada di mobil satu bersama lima teman lainnya. Mobil APV warna hitam terisi penuh, dengan Rizka duduk di depan, di samping Pak Adil; Puri dan Husni di belakang; sedang saya, Maliya dan Denok di tengah. Sebelum Rizka mengusulkan pindah tempat duduk, saya juga sudah merasa aneh dengan duduk diapit perempuan, sehingga ketika Rizka menawarkan ganti tempat, saya langsung setuju. Demikianlah, akhirnya saya duduk di depan di samping Pak Adil.

Jalanan masih basah ketika kami meluncur meninggalkan BII Tower di jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat menuju Bogor. Lagu-lagu yang keluar dari radio-tape merk JVC terdengar stabil mengiringi kami, walaupun kebanyakan tidak pernah saya tahu siapa yang menyanyikannya. Ketika perjalanan memasuki jalan tol dekat Sentul, suara dari radio-tape menjadi tidak jelas, timbul-tenggelam dan suara gemerisik lebih dominan daripada nyanyian.

Denok mulai bereaksi, “Mas, mbok dibenerin radionya, cari lagu yang bagus”. Saya mulai memencet-mencet tombol radio dan perpindahan frekuensi yang telah disetel secara otomatis. Tetap tidak ada radio yang jelas .

“Memang kalau sudah sampai sini tidak ada radio yang bagus suaranya. Ganti tape saja ya,” Pak Adil ikut nimbrung.

“Iya, Pak”.

Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut saya karena memang tidak punya ide lain untuk mengatasi masalah radio itu.

Ternyata yang ada hanya kaset dangdut lama, saya juga tidak  tahu siapa yang menyanyikannya. Suara yang keluar nampak berat sehingga Pak Adil perlu memutar volume ke level 15, dari level 10. Maliya yang duduk di sebelah Denok tidak peduli dengan kesibukan kami, dia telah damai dengan perangkat MP3 dan earphone warna biru langit miliknya. Ternyata dia sudah asyik menikmati musik dari tadi, sendiri tentu saja.

Pak Adil membelokkan mobil ke pom bensin dan mempersilakan kami untuk buang air atau membeli sesuatu. Rizka, Malia, Denok, dan Husni turun, sedangkan saya dan Puri tetap di mobil. Tak berapa lama teman-teman sudah balik ke mobil lagi. Denok dengan heboh menceritakan tulisan di dinding toilet yang menurutnya lucu. “Masak ada tulisan ‘yang coret-coret di sini tidak berpendidikan’, terus di bawahnya ada tulisan lagi ’berarti kamu tidak berpendidikan’, lantas di bawahnya ada lagi tulisan ‘sesama tidak berpendidikan dilarang ribut’…hahaha” cerita Denok. Rizka ikutan tertawa, tapi Maliya tidak, karena sibuk dengan perangkat MP3-nya.

Setelah beberapa saat melanjutkan perjalanan, kami tiba di Saung Kuring, tempat yang disepakati untuk makan siang. Belum sampai jam sebelas siang, dan saya merasa belum terlalu lapar benar. Tetapi ternyata menunggu makanan siap juga tidak sebentar, sehingga jam dua belas kami baru makan. Sekitar dua jam kami di Saung Kuring, kemudian berangkat lagi tanpa Puri karena dia pindah ke mobil Dua. Sebelumnya Mas Andreas menawarkan kalau ada yang mau pindah mobil agar mobil kami tidak terlalu penuh. Dan Puri menyambutnya. Kemudian Denok pindah ke kursi belakang, menemani Husni. Karena sudah siang, udara juga semakin gerah, sehingga Rizka dan Husni meminta AC ditambah levelnya agar lebih dingin. Sebenarnya bukan karena levelnya yang rendah, tetapi karena saluran pendingin hanya ada di depan sehingga udara dingin tidak sampai ke teman-teman yang duduk di tengah dan di belakang. Ini yang bikin repot. Yang tengah dan belakang kegerahan sedangkan kami yang di depan kedinginan. Pada akhirnya Pak Adil memakai jaket.

Selama perjalanan, terhitung tidak hanya satu atau dua kali kami berhenti untuk buang air atau membeli obat, baterai dan segala kebutuhan kami. Kami berhenti empat kali! Ini salah satu sebab mengapa kami tertinggal dari rombongan peserta lainnya. Pak Adil sudah banyak diamnya, dibanding waktu awal berangkat. Saya berharap Pak Adil tidak menyesal ketika sebelumnya mengatakan, “Kalau butuh apa-apa dan pingin membeli sesuatu, bilang saja ya, nanti saya akan berhenti”.

 

*tulisan ini merupakan hasil tugas menulis deskripsi, pelatihan narasi ETF di villa Nirmala, 3-8 Desember 2010

 

Ditulis oleh gondy

31 Januari 2011 pada 9:31 am

Seorang Romo dari “Sicilia”

dengan 4 komentar


Dia selalu mengidentifikasikan diri sebagai orang cerdas dan penuh muslihat. Setelah berhasil mengelabui teman-temannya, dengan bangga dan jumawa mengatakan, “ Lha agen  Mossad kok diremehkan.” Kalau tidak agen Mossad, ya sebagai mafia Sicilia atau IRA dia menyebut dirinya berasal.

Saya percaya teman saya ini penuh muslihat tapi, kalau soal cerdas,nanti dulu.

*

Saya mengenalnya ketika kami satu kelas di kelas dua SMP, tahun 1986. Dia salah satu dari berjibunnya murid tunggakan di kelas kami. Saya tidak tahu, dan sebagian besar murid juga , kenapa banyak sekali anak tunggakan di kelas kami. Terhitung ada lima orang!  Di kelas sebelah juga ada murid tunggakan, tetapi paling banyak dua orang. Apakah guru-guru tidak berhitung terhadap dampaknya terhadap murid-murid yang lain? Ternyata, dampak itu memang menimpa saya. Mulai di kelas dua ini, tentu saja atas ajakan beberapa murid tunggakan, saya mulai membolos sekolah. Tidak jelas sebenarnya yang kami lakukan waktu membolos itu. Kadang cuma tidur di kos saya, atau di kos teman yang lain. Si agen Mossad termasuk salah satu murid yang gemar membolos. Maka tak heran jika salah satu guru kami menyebutnya “Sang Juara Lompat Tinggi.”  Sebagai olok-olokan saja, karena kebiasaan teman saya ini yang membolos dengan melompat tembok  sekolah kami.  Kebiasaan ini juga yang menjadi salah satu sebab dia tidak naik kelas.

Ternyata kebiasaan membolos itu masih berlanjut sampai SMA, walaupun kami berbeda sekolah.  Suatu ketika si “agen Mossad” ini mengajak bolos sekolah “hanya” untuk mengirimkan (tepatnya menaruh) kartu ucapan hari Valentine ke tiga orang teman perempuan dalam sehari. Ini jelas maksudnya apa.  Orang di kampung saya biasa menyebut tindakan ini seperti orang mbranjang manuk, atau menjala burung. Memasang jala di tempat biasa burung mencari makan atau minum, seperti pinggiran sungai. Dengan memasang jala ini diharapkan setidaknya ada satu atau dua burung yang nyangkut. Dan ternyata, tindakan mbranjang tersebut berhasil. Tapi si agen Mossad tidak menindaklanjutinya, dengan alasan yang tidak jelas.

Bagaimanapun, saya patut berterima kasih terhadap teman saya satu ini. Dia salah satu teman yang memperkenalkan saya terhadap dunia. Pemahaman tentang budaya dan praktik berteman, bertambah karena dia. Soal musik misalnya. Awalnya saya tidak paham coretan-coretan pilox yang ada di dinding luar rumahnya. Ada tulisan “ Pink Floyd” dan “The Wall” dengan pilox warna hitam dan putih. Juga beberapa koleksi album Pink Floyd di dalam kamarnya. Saya tidak pernah tertarik menyetelnya. Saya dan juga teman lain lebih sering menyetel First Love-nya Nikka Costa atau Can’t Fight This Feelling milik Reo Speedwagon, kalau main ke rumahnya. Tapi saya penasaran juga akhirnya, karena setiap masuk ke kamarnya, kok yang paling sering dia putar musik Pink Floyd. Saya mulai mencoba ikutan mendengarkan, tapi masih terasa aneh kala itu. Kira-kira sepuluh tahun kemudian, saya baru bisa menikmati musik Pink Floyd itu dan tidak bisa lepas sampai sekarang.

Saya bukan musikolog, juga tidak bisa memainkan satu pun alat musik. Selama ini saya hanya sebagai penikmat, walaupun tetap punya pilihan musik mana yang layak dinikmati. Kesukaan saya pada musik Pink Floyd juga karena itu, nikmat di kuping. Setelah bisa menikmati musiknya, kemudian mulai mengumpulkan album-albumnya dengan memburu di loakan-loakan kaset, khususnya di Jatinegara dan pasar Johar. Ini yang menjadikan hari Sabtu atau Minggu saya dulu menjadi lumayan indah. Dari semua album Pink Floyd, hanya tiga yang sering kuputar : The Wall, Wish You were Here dan The Dark Side of The Moon. Sayangnya, tidak seperti kaset pita, rekaman konser entah dalam CD atau DVD susah ditemukan.

Setahu saya, Mas Budiarto Shambazy, wartawan senior Kompas, juga menyukai Pink Floyd. Ini terlihat dari beberapa kali dia menulis esai atau liputan tentang Pink Floyd. Yang masih saya ingat adalah tulisannya pada 16 Agustus 2003 yang berjudul “ Kala Separuh Bulan Tiba-tiba Menjadi Gelap….” Di situ disebutkan bahwa pada tahun 1990 di Australia, pendengar radio melalui jajak pendapat memilih The Dark Side of The Moon sebagai album terbaik untuk didengar sambil bercinta.  Mas Budiarto tidak menyatakan pendapat apakah dia sepakat dengan jajak pendapat itu dalam tulisannya. Saya pun tidak punya pendapat, karena belum mencobanya.  Saya yakin teman saya yang satu ini juga tidak bisa memberikan pendapatnya, walaupun dia penggemar tulen Pink Floyd. Bukan karena dia telah direkrut oleh Mossad atau mafia Sicilia, tetapi karena dia kini telah menjadi “agen” Serikat Jesus, yang salah satu syaratnya adalah komitmen terhadap  kaul kesucian. Bukankah begitu, Romo?

 

Ditulis oleh gondy

27 Januari 2011 pada 9:22 am

Ditulis dalam coretan

Dikaitkatakan dengan , , , ,

Daeng-daeng dari Tamalate

tinggalkan komentar »

kangen uplink (1)

Jalan Andi Tonro tidak berubah sejak tiga setengah tahun lalu. Tidak pula ingatan saya terhadap kampung di sebelah utara dan selatannya. Kampung tersebut masuk kelurahan Pa’Baeng-baeng, kecamatan Tamalate, Makassar. Di kecamatan Tamalate inilah, terutama di kelurahan Pa’Baeng-baeng, Maccini Sombala dan Parang Tambung, perempuan-perempuan penggerak Komite Perjuangan Rakyat Miskin (KPRM) berada.

Kemarin lalu, saya masuki lagi kampung di selatan jalan. Becak-becak masih mangkal di ujung jalan Andi Tonro 4, di bawah gapura bambu yang telah condong ke kanan. Tulisan di gapura bagian atas sudah tidak bisa terbaca. Sebagian paku telah njepat sehingga rusuk-rusuk bambu nampak nggantung kehilangan pegangan. Rumah-rumah di sepanjang jalan Andi Tonro 4 juga tidak berubah. Rumah-rumah di sebelah timur lebih besar dibanding sebelah barat jalan. Sekira 300 meter ada perempatan yang di pojok seberang barat nampak masjid plus menara. Saya mengambil jalan yang ke timur, ke rumah Hasnia Daeng Caya. Kali ini ada yang berubah di situ. Jalan-jalan sudah tidak tergenang air lagi. Tiga tahun lalu, tidak mudah melalui jalan ini. Harus mlipir dan mencari batu-batu untuk menapak, menghindari genangan air. Apalagi saat musim hujan seperti sekarang, air yang menggenang bisa berminggu-minggu, itupun jika tidak hujan lagi.

“ Jalan-jalan di sini sudah bagus mas, tidak seperti dulu lagi. Ini bagian keberhasilan KPRM,” ujar Daeng Caya.
“Saya bilang ke pak wali, kenapa yang diperbaiki jalan yang sudah bagus, bukannya jalan di kampung-kampung miskin yang jelek dan kebanjiran. Setelah itu, malam-malam datang tiga truk, bawa pasir dan tanah menimbun jalan di sini,” lanjutnya dengan suara sengau ketika mengucap kata dengan akhiran n.

Daeng Caya biasa memanggil walikota Makassar sekarang, Ilham Arief Sirajuddin, dengan menyingkat menjadi pak wali saja. Selama kami ngobrol, berkali-kali Daeng Caya mencoba telpon atau kirim sms pak wali, memastikan pertemuan untuk membahas program land sharing bagi rakyat miskin di kampung Pisang, Pa’Baeng-baeng. Keakraban ini berawal dari kontrak politik yang dilakukan KPRM-Uplink dengan Ilham Arief Sirajuddin dan Supomo Guntur (IASMO) ketika pemilukada tahun 2008. KPRM, dengan Daeng Caya sebagai koordinator, akan mendukung IASMO jika mereka mau menandatangani kontrak politik. Kontrak tersebut berisi lima pernyataan yang harus dilakukan jika IASMO menang. Semua berkait dengan hak-hak rakyat miskin kota dan warga lainnya. Kesepakatan terjadi dan deklarasi kontrak politik dilakukan pada 18 Oktober 2008 di lapangan pacuan kuda, Parang Tambung, dihadapan puluhan ribu orang.

“ Kalau saya pikir, sudah lima puluh persen pak wali menepati janjinya.”
“Apa yang belum, Daeng?” tanya saya
“Menata kampung dan kota dengan baik, walau ada juga saluran air yang sudah diperbaiki.”
“Walau saya kelihatan dekat dengan pak wali, mas, tetapi saya tetap demo dia jika merugikan rakyat. Pernah dia marah karena saya demo. Kami berbantahan seperti anak kecil…hahaha,”

Kami ngobrol di ruang tamu dengan sesekali disela oleh datangnya pembeli. Toko kelontong di ruang depan terbilang baru, juga asmaul husna dalam pigura emas yang tergantung di ruang tamu menghadap pintu masuk. Tiga tahun lalu belum ada. Selain itu, semua nampak sama, seperti mesin jahit merek Butterfly yang masih teronggok di pojok sebelah kanan ruang tamu.

Rumah Daeng Caya tidak berbeda dengan rumah-rumah di gang itu. Rumah panggung khas Makassar. Tangga menuju lantai dua ada di ruang belakang, dekat kamar mandi. Teras depan lantai dua dipakai untuk ruang bersantai dan untuk menjemur pakaian. Nampak pakaian yang dijemur saling tindih, berbagi tempat, terus bertambah akibat tidak ada panas dalam beberapa hari ini.

“Ini mas, enak. Namanya jalan kote, anggota juga yang buat,” ucap Daeng Caya sambil membawa satu piring jalan kote yang dibeli dari tetangga.
“ Kenapa namanya jalan kote, Daeng?”
“ Saya tidak tahu, hehe…, katanya kote itu bunyi ayam berkotek, hahaha”

Saya pikir ada benarnya juga pernyataan Daeng Caya. Jalan kote adalah makanan yang di Jawa biasa disebut pastel, yang berisi kentang, bihun, irisan telur dan wortel. Bentuknya seperti kepala ayam dengan gerigi seperti jengger di salah satu sisinya. Biasa dimakan dengan saus pedas yang dimasukkan ke dalamnya. Mungkin karena kepedasan itu, ayam menjadi berkotek-kotek.

Setelah hujan reda, Daeng Caya mengajak saya jalan ke rumah teman-teman KPRM yang lain. Ke rumah Daeng Lija, Daeng Kébo dan Daeng Nur. Rumah Daeng Lija lebih dekat, walaupun berbeda kelurahan dari Daeng Caya. Sedang rumah Daeng Kébo dan Daeng Nur di Maccini Sombala, agak jauh sehingga perlu naik becak kesana. Cerita mengalir dari rumah-rumah yang saya kunjungi.

“Saya dulu pernah lihat mbak Dian nangis di kantor Kalimalang, kenapa mas?” tanya Daeng Kébo mengagetkan saya.
“Hahaha…, saya tidak tahu Daeng. Banyak orang pernah menangis di kantor kita itu, hahaha….”

Pertanyaan Daeng Kebo itu justru mengingatkan saya pada cerita Daeng Caya bahwa sebenarnya banyak anggota KPRM mendukung Daeng Kébo menjadi penggantinya sebagai koordinator, tapi Daeng Kébo tidak mau.

“ Daeng Kébo tidak mau jadi ketua karena dia masih gampang menangis,”
“Bagaimana nanti kalau dilihat anggota kalau ketuanya menangis, begitu katanya mas” ujar Daeng Caya menirukan perkataan Daeng Kébo.

Saya tidak mampu menahan tawa setelahnya. Daeng, kali ini tidak usahlah menangis…

Ditulis oleh gondy

23 Desember 2010 pada 7:35 pm

Ditulis dalam coretan

Dikaitkatakan dengan , ,

Kerupuk Gendar dan Kualitas Hidup di Jakarta

dengan 8 komentar

Hari Senin 25 Oktober 2010 lalu saya menjadi bagian dari ratusan ribu, mungkin jutaan, manusia yang tersiksa karena kemacetan dan banjir yang menimpa Jakarta. Tak terbayang sebelumnya bahwa hari itu menjadi bagian dari sederet daftar hari terburuk selama tinggal di Jakarta dan sekitarnya. Senin itu saya sengaja keluar kantor lebih pagi untuk mengambil barang titipan orang tua dari Purwodadi yang dikirim bersamaan dengan meubel pesanan Om saya, di Bekasi. Kalau dilihat dari harganya mungkin tidak seberapa dan mungkin bisa didapatkan dengan mudah pula di Jakarta ini. Tetapi karena barang tersebut dari kampung, apalagi merupakan jerih payah orang tua, maka titipan itu musti saya ambil. Hanya satu dus mangga Gadung dan lima bungkus kerupuk Gendar mentah sebenarnya. Sekali lagi bukan soal harganya, tetapi selain alasan di atas, makanan-makanan tersebut juga merupakan salah dua dari kesukaan saya sepanjang masa. Sebenarnya barang itu sudah datang hari Minggu pagi, dan saya pun sudah akan mengambilnya hari itu juga, tetapi ketika perjalanan baru sampai di Stasiun Cawang badan terasa adem-panas, akhirnya saya membatalkannya.

Awalnya perjalanan sangat lancar. Dari Depok ke Jakarta Kota hanya satu jam saja dengan kereta ekonomi. Apalagi di kereta ada kawan yang menemani ngobrol tentang tradisi ziarah dalam Islam, seperti yang biasa dilakukan Gus Dur. Karena itu pula perjalanan terasa demikian cepat. Dari Stasiun Jakarta Kota ke Bekasi pun lancar, kali ini dengan Bekasi Ekspres. Saya sempat membayangkan akan mulus saja perjalanan hari ini. Apalagi di Bekasi dengan gembira ketemu dengan Bu Lik dan ngobrol banyak hal tentang kondisi kampung, saudara lain dan kenangan masa lalu. Jam tiga sore saya pamit pulang karena biar tidak terjebak hujan, karena setiap sore sudah mulai hujan yang nanti malah merepotkan diri sendiri. Dari Bekasi saya membawa satu ransel mangga (dari dus kupindah ke ransel saja), satu tas besar kerupuk gendar, keripik tempe dan sayur lodeh.

Karena jadwalnya berangkat duluan, saya memilih menggunakan kereta ekonomi dari Bekasi ke Jakarta. Tempat duduk banyak yang kosong, tetapi mulai di Kranji hujan turun dan airnya masuk ke dalam kereta lewat pintu dan jendela yang terbuka, sehingga penumpang mulai merapat mencari tempat duduk yang kering. Hanya beberapa kursi yang kering dan bisa diduduki, yang tidak kebagian harus berdiri. Hujan semakin deras dan semakin sedikit lagi kursi yang bisa diduduki yang bebas dari tempias air hujan. Melihat derasnya hujan sudah kebayang kalau Jakarta akan macet, pasti deh. Sekira dua ratus meter setelah melewati Stasiun Jayakarta tiba-tiba kereta berhenti, di tengah jalan antara stasiun Jayakarta dan Stasiun Kota. Saya berpikir, kelihatnnya semua penumpang juga begitu, berhentinya kereta tidak akan lama karena seperti jamak terjadi, yang murah harus mengalah; kereta ekonomi harus mengalah agar kereta ekspres lewat lebih dulu. Setelah setengah jam berlalu kereta tak juga jalan, penumpang mulai putus asa menunggu, satu-persatu mulai turun dari kereta. Apalagi penumpang dari arah Stasiun Jakarta Kota juga mulai turun dan berjalan menyusuri rel menuju Stasiun Jayakarta. Ketika saya tanya salah seorang di antara mereka, ia menjawab “Lokomotif terbakar, jadi lebih baik turun saja karena tidak mungkin kereta jalan dalam satu-dua jam ini”.

Dimulailah mimpi buruk senja itu. Dengan membawa tas ransel penuh mangga dan satu tas tenteng berisi krupuk dan sebagainya,saya ikut turun dan berjalan menyusuri rel menuju stasiun Jayakarta. Bingung apa yang mesti dilakukan, karena jalan raya juga banjir sehingga tidak mungkin mengambil pilihan naik angkutan darat selain kereta. Karena ada kereta ekspres Bojong Gede yang berhenti di stasiun Jayakarta, saya memutuskan masuk dan menunggu perkembangan di situ. Sebagian besar penumpang di dalam kereta sibuk dengan hape-nya masing-masing. Petugas penarik karcis sepertinya bosan menjawab pertanyaan para penumpang tentang apa yang terjadi. Setelah didatangkan lokomotif dari Manggarai, akhirnya kereta ekonomi yang berada di depan bisa ditarik dan kereta yang saya tumpangi kemudian melaju menuju stasiun Jakarta Kota.

Stasiun kota penuh orang yang berjejalan menunggu kereta,seperti stasiun Senen ketika menjelang lebaran. Saya kembali membeli karcis menuju Depok. Penderitaan ternyata tidak berhenti, karena kereta penuh sehingga saya harus berdesakan berdiri sambil menenteng tas yang berisi kerupuk gendar. Tas ransel sudah aman karena bisa kutaruh di tempat tas di atas tempat duduk. Entah kenapa, dorongan untuk membenci setiap orang muncul saat itu. Setiap orang di sekitar sepertinya ikut menambah penderitaan. Mungkin semua juga berpikiran sama, mementingkan diri sendiri. Apalagi ketika di setiap setasiun kereta berhenti dan penumpang selalu bertambah sehingga semua saling gencet di gerbong itu. Ada yang berteriak karena kakinya terinjak, ada pula yang marah karena tangannya tertindih punggung. Saya melihat perempuan kurus di depan saya sudah mulai pucat wajahnya dan kelihatan susah bernafas. Saya dan banyak penumpang akhirnya menyerah, turun di Stasiun Lenteng Agung dan mengambil angkot untuk meneruskan pulang ke Depok dan dilanjutkan dengan ojek. Sampai di rumah sekitar jam 21.00, jadi lima jam dari Jakarta Kota ke Depok. Kutaruh ransel di kamar depan sedang tas dengan buru-buru kubuka : kerupuk Gendar dan keripik tempe remek semua!

Inikah risiko yang harus ditanggung jutaan orang di Jakarta untuk mengejar tujuan hidupnya? Demi bekerja di Jakarta, seluruh ketidaknyamanan harus ditanggung. Udara kotor, waktu banyak terbuang percuma, transportasi macet, lingkungan buruk, kepadatan yang melampaui batas dan ngacirnya solidaritas sosial. Benarkah hidup yang seperti ini layak diperjuangkan? Sambil terlentang di kasur, saya teringat dengan segitiga kerangka keberlanjutan Herman Daly. Menurut Daly, tujuan hidup utama (ultimate ends) akan tercapai dengan sokongan instrumen (intermediate means) dan sarana utama (ultimate means). Dengan kata lain, untuk mencapai tujuan utama itu manusia diberikan modal alam (ultimate means) dan kebebasan dalam memilih/menggunakan instrumen teknologi, sistem sosial, politik, ekonomi, maupun etik. Sarana utama (alam) sudah jelas terbatas dan kita terbukti gagal dalam mengelola secara lestari, sedangkan instrumen yang kita pilih juga terbukti selama ini malah menambah keruwetan ( ketergantungan pada teknologi yang boros energi serta penuh polusi dan sistem ekonomi yang saling menghancurkan, misalnya). Kerangka keberlanjutan Daly tersebut seharusnya mengajarkan kepada kita untuk megelola alam dengan sebaik-baiknya karena keterbatasannya dengan menggunakan instrumen yang tepat. Malam itu telah menjadi bukti bahwa kita gagal mengelola alam dengan baik dengan adanya banjir air dan banjir asap kendaraan dari bahan bakar fosil.

segitiga kerangka keberlanjutan Herman Daly

Mungkinkah tingkat kesehatan yang tinggi, adanya rasa aman, diterima dan dicintai, kebanggan dan aktualisasi diri bisa tercapai dengan lingkungan Jakarta seperti ini? Apakah masuk akal jika hanya ingin merasakan kenikmatan dan kebahagiaan makan kerupuk Gendar harus melakukan perjalanan seharian, terjebak kemacetan, menghirup udara penuh polusi, dan kehilangan rasa sayang serta solidaritas terhadap orang lain? Jawabnya : seharusnya tidak perlu!

(tulisan ini dimuat di http://desantara.org  pada 28/10/10)

Ditulis oleh gondy

29 Oktober 2010 pada 3:49 pm

Ditulis dalam coretan

Dikaitkatakan dengan , ,

Kota yang Sekarat

tinggalkan komentar »

Selama tujuh tahun, banyak hari, khususnya Minggu, sering saya  lewatkan dengan masuk-keluar kampung-kampung “kumuh” (slum), atau tepatnya informal, di Jakarta. Sempat pula beberapa kali ke kampung-kampung informal di kota-kota lain di Indonesia atau negara lain. Kondisi buruk yang dialami kawan-kawan yang tinggal di slum tersebut seperti tak putus-putus, tak ada jedanya. Ada yang kemarin diancam gusuran, hari ini mengalami kebakaran. Ada yang setiap tahun kebanjiran dan dilanjutkan dengan terjangkit penyakit menular. Walaupun begitu, tetap saja saya miris ketika membaca buku Mike Davis  yang berjudul Planet of Slums terbitan Verso tahun 2006 ini.  Setidaknya Davis telah memberikan sistematika dan analisis berdasar data yang sangat kaya tentang kondisi rakyat miskin kota di seluruh dunia yang membuat kemirisan saya menemukan alasannya.

Selain memaparkan kondisi dunia yang mengalami mega-urbanisasi dengan dampak-dampak buruk yang menyertainya, buku ini secara keseluruhan memaparkan potret buram dari kota di seluruh dunia, khususnya dunia ketiga.  Kondisi mereka yang tinggal di slum, sejarah keberadaan mereka dan upaya yang dilakukan untuk mengatasi persoalan dipaparkan dengan sangat rinci. Tetapi perlu ditekankan di sini, di mata Davis, tidak ada yang baik dalam penanganan kota selama ini. Semua pihak dikritik telah gagal dalam mengatasi persoalan kota, bahkan beberapa pihak malah dianggap menjadi penyebab kondisi buruk itu. Pemerintah, lembaga keuangan Internasional dan NGO menjadi sasaran utama kritikan Davis.

Awalan buku ini memaparkan bahwa bumi ini telah menjadi perkotaan lebih cepat dari prediksi banyak orang. Pada tahun 1950 terdapat 86 kota di dunia ini dengan populasi lebih dari satu juta; hari ini terdapat 400, dan pada 2015 akan ada setidaknya 550 kota (hal 1). Kota-kota memang telah menampung hampir dua pertiga ledakan populasi di seluruh dunia sejak tahun 1950, dan sekarang ini semakin bertambah dengan satu juta bayi dan para migran setiap minggunya. Akibatnya, kota-kota akan menjadi faktor paling penting pada hampir seluruh pertumbuhan populasi dunia di masa depan, yang diperkirakan mencapai sekitar 10 milyar pada tahun 2050. (hal. 2)

Mega urbanisasi seperti tersebut di atas, membentuk slum-slum di tengah atau pinggiran kota dengan kondisi yang amat buruk, yang ditandai dengan kepadatan penduduk yang berlebihan, perumahan informal yang tidak layak, akses air dan sanitasi yang kurang, acapkali berada di lahan yang berbahaya secara ekologis dan absennya jaminan tempat tinggal.  Pada tahun 2001 terdapat tidak kurang 921 juta orang yang menghuni pemukiman “kumuh”  di dunia dan pada tahun 2005  jumlah tersebut meningkat menjadi lebih dari 1 milyar orang. Bencana demi bencana, khususnya buatan manusia silih berganti menerjang mereka, seperti penggusuran dan pembakaran permukiman mereka untuk “menghemat” biaya pembangunan kota. Selain itu tentu juga terkena banjir, tanah longsor, epidemi penyakit, karena biasanya permukiman miskin tersebut terletak di wilayah yang memiliki feng shui terburuk di kota atau negara tersebut. Misalnya di  perkampungan miskin di luar Buenos Aires : ia dibangun “di atas sebuah bekas danau, sebuah tempat pembuangan sampah beracun, sebuah makam, serta berada di zona rawan banjir”(hal. 121).

Jika dirunut dari belakang, ada berbagai sebab mengapa mega-urbanisasi dan pemukiman kumuh tumbuh dengan pesat di Negara Dunia Ketiga, khususnya mulai dekade 50-an dan 60-an. Perang dan konflik internal adalah salah satu sebabnya. Kondisi ini berperan jauh lebih efisien dalam mendorong urbanisasi informal pada tahun 1950-an dan 1960-an, ketimbang bencana kelaparan, seperti yang terjadi di anak benua India, Indonesia, Vietnam Selatan dan Algeria. Selain disebabkan oleh perang, migrasi ke kota-kota juga didorong oleh program bantuan Marshall Plan, modernisasi pertanian, dan pertumbuhan pabrik pengganti impor, seperti yang terjadi di Turki.  Di daerah sub-Sahara Afrika orang-orang desa mulai membanjiri kota-kota tak lama setelah kemerdekaan. Tetapi, hingga tahun 1980-an pertumbuhan kota di sebagian besar negara Afrika turut disumbang oleh kebijakan-kebijakan koersif yang memaksa petani untuk menjual produk pertanian mereka di bawah harga pasar dan membebani masyarakat desa dengan pajak yang tinggi. Yang luar biasa adalah proses yang terjadi di Cina. Pada awal 1980-an karena mulai mengendurkan kontrolnya atas pertumbuhan kota, Cina menuai akibatnya dengan membludaknya cadangan tenaga kerja petani yang sudah menganggur, sehingga menghasilkan “banjir petani” yang sebenarnya”. Massa petani miskin yang membludak ini (saat ini diperkirakan mencapai 100 juta jiwa) tidak memiliki hak resmi untuk mendapatkan berbagai layanan sosial ataupun perumahan.

Nah apa yang dilakukan negara, lembaga keuangan internasional dan LSM untuk mengatasi kondisi buruk di permukiman miskin kota itu? Pernyataan seorang anak di Nairobi bisa mewakili kecenderungan negara di seluruh dunia,  “Negara tidak menyediakan air, sekolah, sanitasi, jalan, dan tidak juga rumah sakit”. Menurut Davis, negara telah gagal dalam mengatasi masalah perumahan rakyat dan penciptaan lapangan kerja, selama ini. Peranan pemerintah nasional yang sangat minimal dalam penyediaan rumah telah diperkuat oleh sifat ortodoks ekonomi neo-liberal saat ini seperti yang ditegaskan oleh IMF dan Bank Dunia. Program penyesuaian struktural (SAPs) yang dibebankan pada negara-negara pengutang di akhir tahun 1970-an dan 1980-an mensyaratkan penyusutan program pemerintah dan, acapkali, disertai dengan privatisasi pasar perumahan. Dan sejak pertengahan tahun 1990-an Bank Dunia, UNDP (United Nations Development Program), dan lembaga bantuan internasional lainnya lebih banyak memotong jalur pemerintah dan memilih bekerja secara langsung dengan LSM di tingkat regional maupun lokal, sehingga lembaga-lembaga internasional besar mendapatkan basis baru di tingkat akar rumput lewat dengan bantuan berbagai LSM yang bekerja di ribuan pemukiman miskin dan komunitas rakyat miskin kota. Sistem koordinasi dan pendanaan yang berlapis ini biasa digambarkan sebagai “pemberdayaan,” “sinergi,” dan “tata pemerintahan yang partisipatoris” (hal. 75).   Dengan mengutip pernyataan Asef Bayat, Davis menyebut bahwa LSM Dunia Ketiga telah terbukti berhasil mengkooptasi kepemimpinan lokal dan menghegemoni ruang sosial yang biasanya dikuasai oleh kelompok garis kiri. Profesionalisasi LSM cenderung melemahkan ciri mobilisasi pada aktivisme akar rumput, dan pada saat bersamaan membangun klientelisme madzhab baru.(hal.77)

Benarkah analisis Davis yang tertuang dalam buku Planet of Slums ini? Tentu ada yang tidak sepakat, seperti David Satterthwaite misalnya. David menilai analisis dalam buku itu tidak akurat, gemar membuat generalisasi terutama tentang peran NGO/LSM lokal dalam penanganan slum. Ada banyak contoh NGO lokal yang tidak  mengooptasi kepemimpinan lokal, bahkan berhasil dalam melakukan pemberdayaan dan bekerja bersama dengannya dalam pemenuhan hak dasar, khususnya hak atas tanah dan perumahan.[1] Sayangnya David tidak menyebutkan dimana saja keberhasilan itu terjadi, apakah Indonesia juga termasuk di dalamnya?


[1] http://www.ngopulse.org/article/planet-slums

Ditulis oleh gondy

16 Juli 2010 pada 10:02 am

Ditulis dalam Resume Buku

Dikaitkatakan dengan , , ,

Water Wars : Privatisasi, Profit, dan Polusi*

dengan 5 komentar

Apo hi stha mayobhuvas”

( Air adalah pemelihara paling utama layaknya seorang ibu)

- Taittiriya Samhita

Ismail Seralgedin, wakil presiden Bank Dunia, pada tahun 1995  melakukan prediksi mengenai masa depan perang: “ Jika perang-perang abad ini banyak diakibatkan oleh persengketaan minyak, perang masa depan akan dipicu oleh air”. Prediksi tersebut ternyata menunjukkan tanda-tanda ketepatannya, dan sekarang perang tersebut bahkan sudah berjalan. Konflik karena kekurangan air telah terjadi di Meksiko, Israel, India, Cina, Kanada, Bolivia, Ghana, dan Amerika Serikat.

Perang tentang perebutan air, yang sekarang muncul, meliputi dua hal, yaitu perang paradigma – konflik tentang bagaimana kita memahami fungsi air dan penggunaannya- dan perang dalam pengertian tradisional, yaitu perang yang disertai dengan penggunaan senjata. Berbagai perbenturan budaya air ini terjadi di semua masyarakat.  Satu kebudayaan melihat air sebagai sesuatu yang sakral dan memperlakukannya sebagai tugas mewujudkan suaka hidup, sedangkan budaya lainnya memandang air sebagai komoditas, dan kepemilikan air berikut penjualannya merupakan hak fundamental korporat. Kebudayaan komodifikasi berperang dengan kebudayaan yang saling berbagi, menerima dan memberi air sebagai pemberian cuma-cuma. Budaya (kemasan) plastik yang merusak lingkungan dan tidak dapat didaur ulang berperang melawan peradaban yang didasarkan pada tanah, lumpur, dan budaya pembaruan dan peremajaan.

Bersamaan dengan paradigma ini, telah terjadi perang antarkawasan, di dalam negara maupun dalam komunitas, untuk memperebutkan air. Terlepas dari lokasi konflik baik di Punjab atau di Palestina, yang pasti adalah bahwa politik kekerasan acapkali muncul dari konflik-konflik atas sumber daya air yang langka namun vital. Namun, banyak konflik politik atas sumber air yang bersifat laten . Mereka yang mengendalikan kekuasaan lebih suka menyelubungi perang perebutan air sebagai konflik etnis atau agama. Di Punjab, satu komponen penting dari konflik yang telah merenggut 15.000 nyawa sepanjang tahun 1980 itu adalah perselisihan tentang pembagian air sungai. Namun, konflik yang dipusatkan pada berbagai ketidaksepakatan termasuk strategi pemanfaatan dan pembagian sungai Punjab itu dicirikan sebagai isu separatisme Kaum Sikh. Kasus yang sama menyangkut tanah dan air terjadi antara warga Palestina dan Israel. Konflik atas sumber daya alam tersebut lebih banyak digambarkan sebagai konflik agama antara Muslim dan Yahudi. Maka tak urung kemudian munculah cap-cap fundamentalis dan teroris bagi mereka yang menuntut keadilan pembagian sumber daya alam, termasuk air. Tapi, siapa sebenarnya yang layak disebut teroris?

Perusakan sumber daya air dan hutan lindung merupakan bentuk terorisme. Meniadakan akses orang miskin pada air dengan privatisasi distribusi air atau mengotori sumber air dan sungai, juga merupakan bentuk terorisme. Dalam konteks ekologis perang air, yang menjadi teroris bukan hanya mereka yang bersembunyi di gua-gua Afganistan. Sebagian diantara mereka bersembunyi di ruang-ruang direksi perusahaan dan di belakang peraturan perdagangan bebas WTO, NAFTA, FTAA. Mereka bersembunyi di balik persyaratan privatisasi yang ditentukan oleh IMF dan Bank Dunia.

Kerakusan dan perampasan jatah sumber daya berharga milik orang lain merupakan akar konflik dan akar terorisme. Ketika Presiden Bush dan Perdana Menteri Tony Blair mengumumkan bahwa tujuan perang global melawan terorisme adalah untuk mempertahankan “gaya hidup” Amerika dan Eropa, mereka tengah mendeklarasikan perang melawan planet – perang melawan minyak, air, dan keragaman hayatinya. Gaya hidup 20 persen penduduk bumi yang menggunakan 80 persen sumber daya alam akan menyingkirkan 80 persen penduduk  dari jatah sumber dayanya dan pada akhirnya menghancurkan planet ini. Kita tak bisa melangsungkan kehidupan kita, jika ketamakan terus dipertahankan, dan golongan yang rakus menetapkan aturan yang menentukan hidup dan mati kita.

Ekologi teror menunjukkan pada kita jalan menuju perdamaian. Kedamaian ada dalam pemberdayaan demokrasi ekologis dan demokrasi ekonomi serta pemeliharaan terhadap keragaman. Demokrasi bukan hanya sebuah ritual pemilihan tapi juga kekuasaan rakyat untuk menentukan nasib mereka, menentukan bagaimana sumber daya alam mereka bisa dimiliki dan dimanfaatkan, bagaimana dahaga bisa teredam, bagaimana makanan mereka diproduksi dan didistribusikan, dan kesehatan seperti apa dan sistem pendidikan macam apa yang mereka punyai.

Krisis air

Salah satu ancaman bagi pemanfaatan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan adalah penguasaan dan penggunaan air yang melampaui batas. Kendati dua pertiga planet kita terdiri atas air, sekarang kita menghadapi kelangkaan air yang parah. Pada tahun 1998, 28 negara mengalami kekurangan atau kelangkaan air. Antara tahun 1990 dan 2025 jumlah orang yang hidup di negara tanpa air yang memadai diperkirakan akan mengalami peningkatan dari 131 juta menjadi 817 juta. Suatu negara dikatakan menghadapi krisis air serius ketika air yang tersedia lebih rendah dari 1000 kubik meter per orang per tahun. Di bawah titik ini, kesehatan dan pembangunan ekonomi suatu negara akan sangat terhambat.

Ketersediaan air dalam suatu ekosistem tergantung pada iklim, fisiografi, vegetasi, dan geologi wilayah bersangkutan. Dalam semua bidang tersebut, manusia modern telah merusak bumi dan menghancurkan kapasitasnya untuk menerima, menyerap dan menampung air. Pembabatan hutan dan pertambangan telah menghancurkan kemampuan serap yang dimiliki tanah untuk menyimpan air.Padahal hutan adalah bendungan alami dimana daya serapnya bisa menjaga air dan melepaskannya secara perlahan dalam bentuk mata air dan sungai kecil. Hujan dan salju ditampung oleh kanopi hutan yang melindungi tanah dan meningkatkan kemampuan tanah  hutan untuk menyerap air. Sebagian air tersebut menguap kembali ke udara. Jika tanah-tanah hutan ditutupi oleh sisa dedaunan dan humus, mereka akan menjaga dan memperbarui air.

Penebangan hutan dan pertanian monokultur membuat air menghilang dan merusak kemampuan tanah untuk mengkonversi air. Pertanian dan hutan monokultur telah mengeringkan ekosistem. Di India dan negara-negara Dunia Ketiga lainnya, penyebaran monokultur eucalyptus untuk industri kertas dan bubur kertas telah menjadi sumber utama persoalan air. Penelitian yang dilakukan Divisi Hidrologi dari Pusat Organisasi Riset Industri dan Ilmiah Australia ( Australian Central Scientific and Industrial Research Organisation) menemukan bahwa curah hujan yang kurang dari 1.000 milimeter, kurangnya kelembaban tanah dan air tanah yang terjadi selama beberapa tahun ternyata diakibatkan oleh eucalyptus.

Pada tahun 1983, para petani Karnataka, India berpawai menuju ke kebun pembibitan hutan dan mencabut jutaan benih eucalyptus dan menanamkan biji tamarind dan mangga sebagai gantinya. Di Afrika Selatan, kaum perempuan menggalakkan kampanye air untuk menebangi pohon eucalyptus yang telah mengeringkan sumber mata air dan air tanah. Segera setelah pembersihan eucalyptus disepanjang tepian sungai, aliran mata air meningkat hingga 120 persen.

Selain hutan dan pertanian monokultur, pertambangan juga menjadi faktor penyebab kerusakan daya tampung air. Selain merusak sumber daya air, penambangan di lereng-lereng curam juga menyebabkan tanah longsor dan mengotori aliran air dan sungai dengan runtuhannya. Di India, gerakan ekologi nasional dan lokal telah menghentikan berbagai pertambangan di daerah-daerah resapan air yang rentan guna melindungi kelangsungan sungai. Namun, globalisasi tengah memutarbalikkan aturan. Tiga belas mineral—besi, mangan, krom, sulfur, emas, intan, tembaga, timah, seng, molybdenum, tungsten, nikel, dan platinum—telah diperbolehkan untuk dieksploitasi, dan operasi pertambangan telah dideregulasi. Persetujuan otomatis diberikan pada perusahaan-perusahaan asing yang mempunyai 50 persen saham perusahaan tambang tersebut. Di Orrisa, pertambangan telah memicu pertempuran hidup-mati antara komunitas lokal dengan perusahaan global yang didukung militer. Pada Desember tahun 2000, para demonstran dibunuh dalam suatu demonstrasi antipenambangan. Perusakan atas sumber daya alam melalui perikanan industri oleh korporasi hanya akan berhenti jika dipaksa oleh penduduk lewat aksi langsung atau melalui pengadilan.

Sebab lain dari hancurnya sumber daya air adalah karena proyek revolusi hijau yang dimulai sejak tahun 1950-an. Benih-benih ajaib yang mempunyai produktivitas tinggi dipromosikan ke seluruh penjuru dunia berkembang, dan revolusi hijau dipuji karena mencegah kelaparan jutaan orang. Biaya sosial dan ekologis dari Revolusi Hijau umumnya diabaikan. Dengan menekankan pada benih-benih berproduksi tinggi, model pertanian ini menggusur varietas tanaman lokal yang tahan kekeringan dan menggantikannya dengan tanaman yang boros air. Revolusi Hijau yang membutuhkan banyak air mendorong penambangan air di wilayah yang langka air.

Penggunaan sumur-sumur pipa dan pompa listrik di India, menurut Shiva, juga menjadi penyebab borosnya penggunaan air. Dengan adanya sumur-sumur yang dijalankan dengan tenaga listrik, telah mendorong terjadinya privatisasi informal atas air tanah, sehingga mengakibatkan berkembang pesatnya perkebunan tebu. Perkebunan tebu telah mengubah air tanah menjadi komoditas dan membuat orang-orang dan bahan pangan pokok kehabisan air.

Peran  Bank Dunia, dan Korporasi dalam Krisis Air

Bank Dunia bukan hanya berperan penting dalam memunculkan persoalan kelangkaan air dan polusi air, ia juga mentransformasikan air menjadi kesempatan pasar yang kemudian diperebutkan oleh korporasi-korporasi. Dewasa ini Bank Dunia mengucurkan pinjaman senilai 20 miliar dollar AS dalam proyek-proyek air; 4,8 miliar dollar diantaranya disalurkan untuk proyek air dan sanitasi di daerah urban. Bank Dunia memperkirakan potensi pasar air senilai 1 triliun dollar AS. Setelah jatuhnya saham teknologi, majalah Fortune melihat bisnis air sebagai industri paling menguntungkan bagi para investor. Banyak korporasi besar seperti Monsanto yang bergerak dalam bioteknologi, terpikat dengan pasar yang menguntungkan ini. Monsanto sekarang ini sedang merintis jalan masuk ke dalam bisnis air, dan perusahaan ini juga mengincar kemungkinan pendanaan dari lembaga-lembaga penyedia dana pembangunan.

Privatisasi dan perdagangan air yang dijadikan sebagai syarat pinjaman oleh Bank Dunia sangat klop dengan Monsanto, dan keduanya sudah mulai membicarakan kemungkinan kolaborasi. Proyek-proyek privatisasi yang didanai oleh bank Dunia dan lembaga-lembaga pemberi pinjaman lainnya biasanya dilabeli dengan “kemitraan publik-swasta”. Label itu sangat ampuh, baik karena bunyinya maupun karena maksud yang tersembunyi di dalamnya. Label itu menyatakan partisipasi publik, demokrasi, dan akuntabilitas. Namun label itu menyembunyikan fakta bahwa kesepakatan kemitraan publik-swasta biasanya mendorong pembiayaan ongkos privatisasi barang-barang kebutuhan pokok dengan dana-dana publik.

Selain menganulir hak-hak demokratis rakyat atas air, program privatisasi juga membawa dampak buruk pada kehidupan dan hak-hak kerja dari mereka yang bekerja di kantor kotapraja serta mempengaruhi sistem sanitasi dan air lokal. Maka protes terhadap proyek privatisasi air terjadi di mana-mana. Di Selandia Baru, orang-orang turun ke jalan untuk memprotes komersialisasi air.

Kendati tidak populer di kalangan masyarakat lokal di seluruh dunia, namun desakan privatisasi air tidak kunjung mereda. Karena beban utang yang tinggi, negara-negara berkembang di seluruh dunia dipaksa untuk menjalankan privatisasi air. Tuntutan Bank Dunia dan IMF untuk menderegulasi air sebagai bagian dari prasyarat pinjaman mereka adalah sesuatu yang sudah lazim. Dari 40 pinjaman yang dikeluarkan melalui International Finance Corporation (IFC) pada tahun 2000, 12 diantaranya mencantumkan persyaratan privatisasi sebagian atau privatisasi penuh atas suplai air dan menuntut pembuatan kebijakan yang menstimulus “pengembalian semua ongkos” dan mengeliminasi subsidi. Agar memperoleh pinjaman, lambat laun berbagai pemerintah di Afrika menerima tuntutan privatisasi air. Di Ghana, misalnya, kebijakan Bank Dunia dan IMF yang memaksa penjualan air dengan harga pasar mengharuskan orang-orang miskin untuk membelanjakan 50 persen pendapatannya untuk membeli air.

Penutup

Eksploitasi berlebihan terhadap air dan gangguan pada siklus air menciptakan kekurangan air absolut yang tidak dapat digantikan oleh pasar dengan komoditas lainnya. Ketika air punah, tidak ada alternatif. Bagi perempuan Dunia Ketiga, kelangkaan air berarti menempuh jarak yang lebih jauh lagi untuk mendapatkan air. Bagi petani, hal itu berarti kelaparan dan kemelaratan ketika kekeringan menggagalkan panen mereka. Bagi anak-anak, berarti dehidrasi dan kematian. Sungguh tidak ada pengganti yang sederhana bagi cairan yang sangat berharga ini, yang diperlukan untuk kelangsungan hidup hewan dan tumbuhan.

Krisis air merupakan krisis ekologis dengan penyebab komersial yang tidak dilengkapi dengan solusi pasar. Solusi pasar menghancurkan bumi dan kian memperburuk kesenjangan. Pemecahan terhadap krisis ekologis (harus) bersifat ekologis, dan solusi terhadap ketidakadilan adalah demokrasi. Untuk mengakhiri krisis air disyaratkan pembaruan demokrasi ekologis.

***

*tulisan ini adalah resume dari buku Water Wars karangan Vandana Shiva yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Uzair Fauzan dan diterbitkan oleh Insist dan Walhi pada tahun 2002. Karena berupa resume, maka saya hanya meringkas isi dengan menyambungkan kata atau kalimat yang ada dalam buku tersebut sehingga menjadi bacaan yang padat, tetapi tetap tidak kehilangan inti utama buku tersebut (semoga).  Tulisan ini juga pernah dijadikan bahan diskusi mingguan di Urban Poor Consortium, dan karena saya pikir masih relevan dengan perkembangan planet sekarang, maka tulisan ini ditampilkan dalam blog ini.

Ditulis oleh gondy

6 Juni 2010 pada 1:02 pm

Ditulis dalam Resume Buku

Dikaitkatakan dengan , , ,

Radang Usus Buntu dan Slow Food Movement

dengan 4 komentar

Tidak ada yang aneh ketika saya sampai di Jogja tanggal 17 April lalu untuk menepati janji menjadi salah satu narasumber di pelatihan kader dasar PMII UGM. Tidak juga kebetulan jika malam setelah acara pelatihan itu dan dilanjut sehari setelahnya seorang kawan mengajak berbincang tentang banyak hal di kantor Lafadl. Perbincangan kami hari itu tentu tidak mendalam, karena sebenarnya kami sedang “pamer” informasi yang kami punya. “Pameran”  ini dimeriahkan dengan berbagi informasi mengenai buku yang menarik yang bisa diunduh secara gratis melalui Gigapedia. Slow Food Movement adalah salah satu tema yang kami bicarakan malam itu.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh gondy

6 Mei 2010 pada 7:17 pm

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.